Chapter 1
Kukalungkan kamera
barbie star-ku, kemudian mengeluarkan
my summer Burberry bag dari jendela
mobil sedan semi-limo hitam yang
kutumpangi bersama kakak lelakiku. Mengeluarkan tubuhku dari kaca jendela yang
kubuka lebar. Tanpa sepengetahuannya, aku memberi aba-aba pada supir agar
menurunkan kecepatan mobil. Perlahan berhenti di bahu jalan. Demi keselamatan
kami semua, aku tidak bisa lompat begitu saja dari mobil yang berada di jalur
cepat. Apalagi, situasi jalan raya cukup ramai. Siang ini kami sedang berkendara
di atas jembatan yang rata-rata dilewati oleh banyak kendaraan yang melaju kencang.
“Bruk…” Tasku
jatuh di jalanan. Tidak lama, kaki kananku menapak di aspal yang panas ini tanpa
alas kaki. Kuku kakiku yang berhias nail
polish berwarna biru metalik tampak berkilau.
Aku bergumam.
“Oh… untung saja… dia sedang sibuk.” Satu tangannya memegang telepon genggam
edisi terbatasnya dan tangan lainnya menyentuh layar tablet PC-nya. Segera kukeluarkan kakiku seraya meraih tasku, tapi
kakakku, Fred rupanya menyadari angin yang masuk dari jendela yang barusan
kubuka.
Dia menarik lenganku.
Sontak aku terkejut. “Mau pergi ke mana kau?” Berusaha melepaskan tangannya.
Lantang dia
menyebut namaku. Dia kerepotan menaruh dua gadget-nya
itu. Dress yang kira-kira 5 cm dari
lututku dengan design one shoulder berlengan
panjang yang lebar dan berwarna cerah khas musim panas yang kukenakan tidak
bisa digapainya.
Bersamaan dengan
itu, Koichi, asisten pribadiku yang sudah berada di luar mobil memanggilku.
“Nyonya… jangan lakukan ini lagi. Jujur, apa kau tidak pernah merasa lelah,
Nyonya?”
“Tap… tap…” Aku
berjalan cepat menuju trotoar. Di sampingku terhampar entah sungai atau laut
yang membatasi satu kota dengan kota terdekat. Memancarkan sinar matahari yang
terpantul di aliran air yang tenang. Mobil-mobil melambatkan lajunya seakan
melihat kecelakaan di jalan raya.
“Berapa kali
kubilang jangan memanggilku seperti itu. Bukankah usiaku terlalu muda untuk dipanggil
Madam?”
Kulihat bis
berwarna hijau pudar baru saja lewat. Baiklah… aku ada ide. Aku melompati
pembatas jalan. Berlari menuju bis. Seolah mengerti akan pandangan mataku pada
bis itu, Fred dengan cepat mengeluarkan kepalanya dari jendela bak turis yang
sedang melihat betapa tingginya gedung-gedung pencakar langit di pusat kota.
Melepas kacamata
hitamnya. “I told you, get back here! Moira
Sakura April Rosanna Eshkert, if you not get
inside right now, I’ll… …”
Mendengarnya
tidak membuatku melambatkan langkahku. Aku justru menghiraukan ucapannya.
Bergegas mengejar bis yang jaraknya tidak jauh itu. Rambut panjang
bergelombangku melayang-layang di udara. Sesekali aku menengoknya yang kesal
seraya tetap memotretku. Bagaimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun juga
dia selalu mendapat objek untuk kesenangan dan gairahnya dalam hidup. Ya, fotografi.
Terkejut? Apa kau pernah menduga seseorang berdarah biru seperti dia memiliki
ketertarikan dalam semua hal yang berhubungan dengan lensa? Para pria di
dunianya berkecimpung dalam berbagai bisnis termasuk hotel dan restoran, saham
atau dunia politik yang sama sekali tidak disukainya.
Dia yang banyak orang
sebut sebagai fotografer yang hasil karyanya selalu mengagetkan dengan model
dan pose yang tidak terpikirkan which turns out unbelievably spectacular. Tidak
terduga dan terkadang menggelikan. Dia bak memiliki 100 cara untuk mendapat foto
yang dia inginkan. Justru itulah yang membuat foto-fotonya dinanti dan
dirindukan untuk di-post di
laman-laman web resminya. Dia dikenal
sebagai fotografer yang ‘angin-anginan’ saat bekerja. Mudah bosan. Tiba-tiba
menghilang saat jam kerja atau kebiasannya yang merepotkan adalah mengganti
model ketika pemotretan berlangsung. Kau tahu kan… itu bukan wewenangnya.
Namun, dia tetap
memaksakan kehendaknya pada kliennya. Dia merasa bahwa dia berhak berpendapat
karena nantinya, namanya akan dicantumkan jelas. Dan jika hasilnya buruk, dia
tidak mau disangkutpautkan. Dia juga bilang bahwa dia justru membantu mereka
agar dapat meningkatkan citra brand atau
busana kliennya. Jadi, apa salahnya jika dia cukup vocal menyangkut credibility-nya.
Oh… ya, kau tahu… seseorang yang menginginkan jasanya layaknya seorang
promotor. Ibaratnya, harus mengikuti semua pemintaan penyanyi yang diharapkan
akan mampir untuk menggelar konser.
Dia berbisik
padaku bahwa semua pemintaannya itu adalah harga dirinya. Dengan begitu, dia
merasa diistimewakan mengingat dia senang diperlakukan begitu. Katanya, semua
orang pasti senang jika kepentingannya selalu didahulukan. Dia juga bilang
bahwa merasa diistimewakan adalah hal baik. Ya… begitulah anak orang kaya yang
dipanggil Tuan muda sedari kecil. Dan hasilnya, mereka akan menghargainya.
Bukan hanya dirinya saja, pada hasil jepretannya juga.
Satu hal lagi,
dia memasang tarif untuk setiap pemotretannya. Meski bukan itu yang dia cari,
tapi dibayar dengan harga yang pantas atau memasang harga itu sangat penting
agar tidak dipandang sebelah mata oleh kliennya. Ujung-ujungnya, ini adalah bisnis.
Lagipula, ada para staf yang harus digaji. Aduh… gawat. Kenapa aku membaginya
pada kalian, ya? Aku seharusnya tutup mulut mengenai ini. Sstt… jangan
bilang-bilang aku mengatakannya. Ingat, ini adalah rahasia di antara kita, ok.
Meski begitu,
aku mengenalnya sebagai orang yang sangat mencintai profesinya. ‘Menggilai’
kamera. Ups… apa kata menggilai itu berlebihan? Entah itu kamera untuk memotret
atau video camera yang digunakan
untuk membuat film pendek atau dokumentasi lainnya. Dia bukan hanya sebagai camera operator atau istilah kerennya cinematographer, posisi sutradara juga
dipegangnya. Menjadi orang di balik kamera, maka think out of the box. Begitu yang dia katakan padaku sambil
menjelaskan pengoperasian kamera barunya itu.
Mengenai
angin-anginan, maksudku adalah dia hanya akan bekerja atau menerima tawaran
jika konsepnya ditanggapi serius bukan sekedar pendapat, melainkan
dipertimbangkan juga. Tidak mau diatur. Dikenal sebagai ‘penggila kamera’ yang
mudah naik pitam. Sulit mengendalikan amarahnya. Banyak yang bilang dia adalah hotheaded person. Meski begitu, selama
ini klien-kliennya setuju mengikuti caranya bekerja, bukan sebaliknya. Bekerjasama
bersama seseorang atau sebuah tim yang memiliki visi yang sama dengannya
merupakan hal yang disukainya.
Berteriak kesal
sembari membidikku menggunakan kamera holga
multicolor yang asal diambilnya. Dia
pasti cukup kerepotan menelepon, menaruh, dan mengambil barang-barangnya dalam
waktu yang bersamaan tanpa melihat sambil berteriak pula. Poni sampingku yang
terterpa angin sedikit mengahalangi pandanganku. Rambutku menerpa wajah yang
dipulas make up tipis. Bersamaan
dengan itu, Koichi mengejarku atas arahan Fred tentu saja. Belum sempat dia bicara,
aku menaikkan lenganku. Kupegang tali tas yang tipis ini seraya memotret
keadaan sekitar dengan pemandangan yang didominasi oleh air. Mataku jauh
memandang di luar pembatas beton jembatan yang kokoh. Beberapa jepretan foto
kudapatkan tanpa begitu memikirkan aspek fotografi. Kulepaskan jemariku dari
kamera mengingat bisnya sudah sangat dekat. Jari-jemariku berhasil menggenggam
erat sisi tangga yang terdapat di belakang bis tersebut.
Dengan wajah sumringah
aku melambaikan tangan kiriku. Tanpa memedulikan banyak mata yang melihatku di balik
kaca jendela mobil mereka, aku berdiri di atas anak tangga bis tersebut.
Sebaliknya, aku justru tertawa geli melihat Fred yang kesal. Menaruh kedua
tangan di pinggangnya. Koichi berlari semakin kencang. Rambutnya yang selalu
disisir rapi pun sedikit acak-acakan. Setelan jas hitam dengan kemeja putih dan
earphone yang masih terpasang di
telinganya mengingatkanku pada beberapa pengawal yang berhasil ‘kusingkirkan.’ Dia sedang berusaha menghentikan
bisnya dengan membiarkan tubuhnya terlihat di spion supir. Dengan begitu,
supirnya menginjak rem. Bagiku, tidaklah sulit untuk membuatnya berhenti
melakukan itu.
Dengan tenangnya
dan datarnya aku berkata, “Apa kau ingin aku melompat dari mobil yang sedang melaju?
Baiklah…” Tubuhku condong ke depan.
Panik dia
berujar cepat, “Jangan!” Dia melambatkan langkahnya.“Kalau begitu, berhentilah
mengejarku.” Kembali pada posisi semula. Ucapanku mampu membuatnya sedikit
menjauh dari bis yang kutumpangi gratis ini. Terlihat senyumku yang mengembang.
“Sudahlah…
berhenti mengejarku. Aku janji tidak akan lama. Sudah… sana pergi. See you at the meeting.”
Kudengar suara
Fred yang berteriak. “Lihat saja seberapa jauh kau bisa pergi.” Aku hanya membalasnya
dengan lambaian tinggi tanganku.
Melihatku yang
sudah cukup jauh dia berkata, “Ya, baiklah… Bersenang-senanglah selama beberapa
jam.”
Bergumam di
tengah ramainya lalu lintas. “Kenapa akhir-akhir ini dia sering kabur, ya? Apa
dia sedang perlahan-lahan menjauh dariku agar leluasa solo tour begitu? Tapi, kita kan sudah membicarakannya. Ck… ini
tidak bisa dibiarkan.”
Koichi yang baru saja kembali
meresponnya sembari merapikan rambut dan jasnya. “Tuan, apa yang kau katakan?
Bukankah Nyonya memang senang berjalan-jalan sendirian? Mencari tempat sepi dan
tenang untuk … … …”
“Ya, aku tahu
itu. Kau benar. Dia pasti bisa menjaga dirinya. Dia akan baik-baik saja seperti
biasanya.” Berjalan kembali menuju mobil. Menatap bis yang terhalangi oleh
mobil-mobil di belakangnya.
“Mungkin, ini
hanya kekhawatiranku saja.” Duduk di kursi yang berantakan oleh
barang-barangnya termasuk kertas yang terlepas dari map file miliknya.
Sementara Koichi
merapikannya, Fred menoleh pada sepatu berhak datar dengan aksen kain yang
dibentuk bunga berwarna warni di sepanjang tali depannya. Mengambilnya lantas
tersenyum tipis selagi memerhatikannya. Lalu, melihat ke luar jendela. Matahari
menunjukkan sinarnya yang menyilaukan.
Berkata pada
supir, “Ayo jalan.”
“Nyonya pergi
begitu saja sampai sepatunya pun tertinggal. Jalan-jalan di cuaca panas begini
tanpa alas kaki.” Mengeluarkan nafas panjang. “Aduh… Nyonya membuatku khawatir
saja.”
“Dia pasti belum
jauh,” imbuhnya.
Dia mencari
dompet di tas laptopku. Di seleting dalamnya, dia menemukan my orange Hermes wallet yang berukuran 8 x 5 inches.
Dia membukanya. Tersenyum tipis ketika melihat dompet yang ukurannya lebih
kecil tidak ada. Dia tahu karena tasku kecil, maka aku pasti membawa dompet
yang ukurannya kecil pula.
Dalam hati dia
berkata, ‘Dengan uang yang tidak banyak itu, ke mana dia akan pergi?’ Lembaran
mata uang Jepang lebih mendominasi dibanding mata uang lainnya.
“I’ve got an idea” seraya menatap
Koichi. Mencari-cari telepon genggamnya yang tidak sengaja didudukinya. Tanpa
ragu menekan tombol telepon genggamnya.
Kira-kira 20
menit kemudian, bisnya berhenti di halte 5. Plang yang terpasang tinggi sesaat
setelah aku menginjakkan kaki di halte ini yang menunjukannya. Aku merasa tidak
ada yang salah dengan penampilanku. Rambutku memang sedikit berantakan, tapi
selain itu semuanya baik. Tas berukuran kecil sesuai dengan dress yang kukenakan. Aksesoris berupa
gelang-gelang etnik buatan tangan dan cincin yang kupakai di beberapa jemariku
serta jam tangan berwarna senada dengan anting beraksen pita; semuanya ok.
Lalu… kenapa
orang-orang menatapku aneh, ya? Aku membalikkan tubuhku dan menyadari diriku
yang tercermin di etalase sebuah toko pakaian. Ya ampun… aku tidak beralas
kaki! Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa aku terlalu bersemangat, sehingga rasa
panas di telepak kakiku saja tidak terasa? Pantas… mereka menatapku begitu. Rupanya
memang ada yang tidak beres dengan penampilanku. Bagaimana mungkin penampilan
seseorang bisa dikatakan sempurna jika tidak mengenakan sepasang sepatu yang
sesuai dengan busananya. Menurutku, sepasang sepatu itu merupakan kunci dari
keseluruhan penampilan seseorang.
Ketika aku
melihat ada seorang wanita yang berpakaian modis, apalagi dengan tatanan
rambutnya yang sesuai; sementara mataku ‘mengidentifikasi’ sepatunya tidak
cocok dengan keseluruhan busananya. Kurasa itu nilai minus mengingat dia bisa
saja tampil sempurna, tapi sepatunya saja yang ‘kurang.’ Asumsikan seperti dressing di salad buah yang terlalu
banyak cream, sehingga menutupi kesegaran
buah-buahannya atau Mexican chili
meatballs yang rasa pedasnya kurang menggigit di lidah. Ayolah… namanya
saja chili, tentu rasanya harus
pedas.
Sama halnya
dengan penampilan dari atas sampai bawah yang seharusnya sesuai. Bukan berarti
atasan berwarna merah, lalu sisanya serba merah. Tidak. Itu salah pengertian
namanya. Harus ada yang ditonjolkan dari penampilannya. Entah itu sepatu,
aksesoris, tas atau busananya sendiri. Aku sangat menyayangkan melihat sepatu
yang terlalu sederhana dipadankan dengan gaun malam bermotif polos begitu.
Tampaknya itu sepatu yang digunakan sehari-hari. Bagian belakangnya sedikit
kotor dan bernoda coklat. Tidak cocok, kan? Apa kau sependapat denganku?
Fred bilang
barang-barang wanita memang merepotkan. “Kami pria bisa bepergian selama
seminggu hanya dengan membawa satu koper ukuran standar saja. Berbeda dengan
wanita yang perlu 2-3 koper besar. Belum lagi, koper make up yang terpisah. Apa saja yang kalian bawa? Aku bertaruh
pasti banyak barang yang kalian masukkan ke dalam sana, termasuk beberapa
pasang sepatu dan tas.”
“Memangnya aku
seperti itu?” Mengerenyitkan dahiku. Mengingat berapa koper yang kubawa setiap
kali ke airport.
“Kau memang
hanya membawa satu koper berukuran kecil setiap kita bepergian, tapi pada
waktunya pulang kopermu bertambah.”
“Itu kan agar
praktis. Jadi, aku membeli pakaian di sana saja. Sedikit diluar perkiraan
memang” seraya tersenyum bersalah. “Tapi… di koperku juga terdapat oleh-oleh
untuk banyak orang.” Memelankan suaraku. “Isinya tidak semua barang-barangku.”
Kau tahu… tidak
aneh acara yang hanya dihadiri selama 1-2 jam, tapi dandannya lebih lama dari
itu. Belum lagi lemari dan meja rias yang berantakan serta ranjang yang
dipenuhi berbagai macam pakaian yang sudah dicobanya sembari berdiri di depan
cermin. Bukankah begitu, girls? Ayolah…
kami, wanita diakui atau tidak, disadari atau tidak memang seperti itu. Senang
tampil cantik dan berusaha tampil cantik di hadapan orang yang akan ditemuinya.
Ya, setidaknya tampil pantas.
Mencari sepatu
yang cocok dengan dress pendek musim
panasku memang tidak sulit di sini. Di sepanjang jalan ini berjajar toko dan butik
busana wanita. Setelah window-shopping di
tiga butik di belakangku sana, aku mendapat sepasang sepatu wedges bertali lebar yang dari kejauhan
tampak berwarna kuning tua. Sepatu berhak 10 cm berbahan kulit yang memiliki design sederhana ini nyaman digunakan
berjalan. Tali sepatunya menyilang dan melingkar di pergelangan kakiku,
sedangkan potongan yang lebih lebar menutupi jari jemari kakiku. Yang terlihat
dari depan hanya keempat jemari kakiku. Mengingat keterbatasan bahasa, membeli
satu barang yang seharusnya dan biasanya tidak memakan banyak waktu menjadi lebih
dari 30 menit.
Sebenarnya, ada
beberapa barang yang ingin kubeli di butik bernama Angel’s Wings ini, tapi kau tahu kan tidak banyak mata uang Korea
di dompet kecil berseletingku ini. Berbeda dengan jumlah mata uang Yen yang ternyata
ada tujuh lembar dengan nilai yang cukup besar. Menyadari kartu kreditku tidak
bisa dipakai ketika tidak melihat logo Visa ataupun MasterCard di pintu masuk,
aku harus membatasi pengeluaranku. Ya, saat ini aku berada di Korea. Apa kau
bisa menduganya? Aaa… seperti dugaanku. Terdapat beberapa orang yang sedikit
terkejut ketika membaca Korea. Got you! Hei…
apa kau baru saja tersenyum ketahuan?
Kubersihkan telapak kakiku menggunakan tisu
basah yang kuminta dari salah satu pegawai di sana. Tapi, karena aku
menggunakan lebih dari dua helai tisu, sekalian kubeli saja semuanya. Perempuan
berusia sekitar 20 tahunan ini bukan memandangiku, melainkan dua tatoku yang
berada di kedua lenganku. Dari tulang selangka melingkar melewati lengan sampai
punggungku yang terdapat tato bergambar dedaunan dipermanis dengan bunga-bunga
kecil berwarna merah. Bentuknya bisa dibilang feminine; menjuntai indahnya. Satunya lagi adalah tato yang berjalan
di bawah lenganku bertuliskan; love, ice
cream and ring berukuran sedang. Bagian bawah huruf G-nya adalah cincin
merah jambu yang termasuk ke dalam kategori berlian paling langka di dunia.
Tebak berapa harganya. Siapkan belasan juta dolar harus jika ingin membelinya
di pelelangan.
Hurufnya memang
sengaja dibuat seperti tulisan tangan atau lebih mirip coretan-coretan dinding
yang sering kita jumpai di setiap sudut kota. Cukup untuk membuat orang-orang
di sekelilingku bukan hanya menoleh, melainkan menatap kagum, tidak suka,
bahkan menggelengkan kepalanya. Terlebih, Fred juga tidak suka tatoku yang satu
ini. Katanya, tatonya terlalu besar dan terlalu bold untuk seorang wanita sepertiku. Komentarnya pedas sekali jika
mengenai hal ini.
“Dengan tato
itu, kau terlihat seperti bartender
atau DJ di sebuah nightclub murahan yang
terdapat di gang-gang kecil. And what is
that? I get it about the love. Humph…. but I have no idea with the rest. Ice
cream and ring?”
Aku hanya
cemberut mendengarnya berkata seperti itu. Musim panas mengingatkanku pada ice cream, sedangkan ring; aku sedang memutar-mutarnya
sewaktu T bertanya apa kata selanjutnya. Aku selalu teringat padanya setiap
kali melihatnya. Ini adalah pemberian terakhir dari seorang pria bernama Hans
Joseph Eshkert. Siapa dia? Akan aku ceritakan nanti.
“Untung saja
tidak permanen.” Hah… tidak permanen? Bagaimana mungkin tato tidak permanen?
Aku jamin pasti banyak yang menanyakannya.
Jadi begini, aku
mengenal seorang teman yang ahli dalam bidang body painting dan teknik pewarnaan. Kemampuannya sampai terdengar ke studio Universal yang luas bak
komplek perumahan itu. Tidak berapa lama kemudian, Tony atau yang akrab
kupanggil T sudah berada di dalam ruang rias. Dia adalah salah satu staf special effect dalam produksi film
tersebut.
Tangannya yang
dilapisi sarung tangan ketat sedang membuat tato untuk melengkapi karakter yang
diinginkan sutradara. Aktor tersebut berperan sebagai prajurit khusus sewaktu
masa perang dunia kedua yang biasanya ditandai dengan nomor seri rahasia yang
ditato di salah satu bagian tubuhnya. Aku tidak akan menyebutkan nama aktor itu
mengingat filmnya belum tayang di bioskop. Bahkan syutingnya saja belum
selesai. Dituduh sebagai penyebar berita yang membocorkan informasi yang
seharusnya dirahasiakan kan tidak menyenangkan.
Apa kau pikir
tato yang sedang dikerjakannya itu tato asli yang permanen begitu? Tentu saja
tidak. Tato yang selamanya berada di tubuhmu tidak akan sembarangan dibuat
begitu saja. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang menginginkan kehadiran
seorang bayi mungil nan lucu di tengah-tengah kehidupannya. Untuk itulah,
keahlian T dibutuhkan karena pewarnaan merupakan kunci utama agar tato tersebut
kelihatan begitu nyata. Maksudku, membuat tatonya semirip aslinya.
Menurutnya, akan
lebih baik lagi jika para penonton berpikir dan menganggap bahwa itu adalah
tato asli. Namun, sewaktu melihat foto aktor tersebut terpajang di halaman
majalah-majalah atau artikel di internet,
mereka menyadari bahwa tatonya sudah tidak ada.
‘Oh… ternyata
itu bukan asli.’ Lalu, dia mendengar. ‘Tatonya tampak begitu nyata.’
Nah… itu adalah sebuah
kepercayaan diri baginya. Tanda bahwa hasil kerja kerasnya selama berjam-jam di
ruang rias diakui. Produsernya bilang bahwa pengerjaan tato palsunya itu sangat
detil. Sempurna. Dia bahkan sampai meminta untuk dibuatkan satu tato berukuran
kecil yang bergambar wajah anak lelakinya yang berusia empat tahun di
tengkuknya. Melihat hasilnya, dia bilang bahwa tato goresan tangannya lebih
dari memuaskan. Ekpresi wajah dan garis senyumnya lebih baik dari foto yang dia
tunjukkan.
Aku mengenalnya
tanpa sengaja sebenarnya. Sekitar dua tahun lalu, aku pernah menyiramnya dengan
seember air di pojok; dekat tempat sampah besar di gang apartemen kumuhku. Kau
tahu… apa yang sedang dia lakukan di tengah malam yang dingin pada waktu itu?
Dia teler. Mabuk berat sampai bicaranya saja tidak jelas. Aku yang lelah
sepulang bekerja seharian ingin sekali beristirahat dengan nyaman di balik
selimutku yang berbahan wol. Itu wajar, kan? Namun, dia dengan nyanyiannya yang
tidak karuan sungguh mengganggu tidurku. Padahal empat jam lagi aku harus bangun
untuk mengantarkan susu tanpa merek yang diproduksi oleh sebuah peternakan
kecil yang tidak jauh dari pusat kota tempatku tinggal. Para tetangga di area
sekitar membuat keributan semakin menjadi.
Jujur, malam itu
aku amat kesal. Tanpa ragu aku mengambil ember yang terisi oleh air hujan di
kamar mandi. Kemarin hujan deras dan seperti biasa atapku bocor. Aku turun
tanpa peduli rambut yang berantakan dan penutup mata yang kugeser bak sebuah
bando. Menyorot tangga besi yang di beberapa bagiannya berkarat menggunakan
senter. Kutemukan dia sedang bernyanyi bak seorang rock star sembari mengisap ganjanya. Terduduk bak tidak memiliki
tenaga untuk berdiri. Membicarakan hal-hal yang aku tidak mengerti. Di
genggaman tangannya masih ada enam linting ganja yang aku rasa akan dihabiskannya
malam ini juga.
“Pathetic.” Lalu… byuuurrr… Air dingin itu seketika
membuatnya tersadar. Suaranya yang berteriak kedinginan membuat mereka mengerluarkan
kepalanya dari jendela untuk melihat apa yang terjadi. Ada yang berseru dan ada
pula yang mengejekku.
Sekilas kulihat
mereka satu persatu seraya berkata, “Apa yang kau lihat?” Mau tidak mau, aku
harus bisa melindungi diriku sendiri jika ingin tinggal dalam waktu yang cukup lama
di lingkungan ‘keras’ dan tempat ‘beresiko’ seperti ini.
Aku menyorotnya
menggunakan senter. “Apa kau akan menghabiskan hidupmu menjadi orang yang
menyedihkan seperti ini? Ck… berkeliaran di jalanan sembari mengisap barang
tidak berguna itu layaknya seorang gelandangan.”
Kurebut rokok
berisi ganja itu dari genggaman tangannya. Dia bahkan tidak bisa mengambilnya
kembali. Kurasa tubuhnya terlalu lemas untuk digerakkan. Dengan cepat aku
melemparnya ke belakang, lalu menginjaknya sampai hancur.
“Hei… Kau!” Dia
memungutnya seraya mencium aromanya. Tersenyum akan aroma yang memabukkan. Memukul
kakiku yang pukulannya bak anak TK. Aku menghindari pukulannya dengan mundur
satu langkah.
Dia meluruskan
lengannya dan menengadahkan telapak tangannya padaku. “Uang. Kau harus
menggantinya.” Sungguh tatapan seorang pecandu.
“Jika kau hidup
begini terus, kurasa kau cocok berada di sini. Lihat dirimu. Mengisap sampah di
samping tempat sampah. Dengar… berhentilah berulah, maka kau tidak akan
mendapat perlakuan memalukan seperti yang sekarang kau dapatkan ini.”
Meraih tangannya
dan membantunya berdiri. Jelas dia kesulitan untuk berdiri. Dia kelihatan
mengantuk. Mengusap hidungnya seraya mendorongku. Bergumam. “Kau beruntung, aku
yang datang. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padamu jika salah satu di
antara mereka yang kemari. Kau habis! Kau tahu itu?”
Mendekatinya. “Bangun!”
Meraih gagang emberku. Tidak lama kemudian, nada suaraku kembali normal. “Pulanglah…”
Dia menepis tanganku.
Untuk mencoba
berdiri saja beberapa kali dia terjatuh. Oh… wajahnya keras sekali menghantam tanah.
Berdiri dengan bertumpu pada sisi tempat sampah. Kulihat dia yang berjalan
keluar gang sempoyongan. Menoleh padaku dan menyumpahiku. Sempat kulihat
bibirnya yang menggigil.
“Watch your step.” Baru saja aku
bicara, ucapanku sudah terbukti. Suara gaduh terdengar dari tempatnya
berada.
Rupanya itu
adalah pukulan keras baginya. Tidak ada seorangpun. Sekalipun yang memperlakukannya
atau mengucapkan kata-kata seperti yang kulakukan waktu itu. Tanpa sadar,
perlakuan dan ucapanku membuatnya kembali membuka halaman brosur-brosur pusat
rehabilitasi yang berserakan di karpet kamarnya. Dia yang hidup terpisah dari
orangtuanya sejak kuliah ini akhirnya berani mendaftar dan mengambil enam bulan
program rehab. Singkatnya, dia sembuh dari kecanduannya! Memulai hidupnya
kembali. Memulai karirnya. Hal pertama di to-do
list-nya adalah pergi ke tempat di mana aku menyiramnya dan mencari tahu
tempat tinggalku. Dia merasa harus menemuiku langsung untuk berterima kasih
secara pantas. Katanya, setidaknya dia harus membelikanku makan malam,
memberikan hadiah, melakukan sesuatu atau apapun itu. Namun, dia terlambat.
Waktu itu, beberapa
hari yang lalu sebelum dia ke sana aku sudah pindah ke tempat yang tentu saja lebih
nyaman. Tidak ada yang tahu ke mana aku pindah karena aku memang sengaja tidak
meninggalkan alamat maupun nomor telepon baruku. Lagipula, siapa yang mau
meninggalkan sesuatu atau istilahnya ‘jejak’ di tempat begitu. Aku tidak mau
berkaitan dengan tempat itu. Aku juga tidak mau ada seseorang yang mencariku. Terlebih,
aku tidak mengenal baik satu orangpun yang tinggal di lingkunganku.
Beruntung… aku mendapat
Ibu pemilik apartemen yang baik. Keluarganya juga tidak seperti kebanyakan
keluarga di sini yang saling berteriak satu sama lain atau membanting barang-barang
ke pintu. Oh… ya, dia sendiri yang menyarankannya. Untuk itulah aku semakin
yakin untuk tidak meninggalkan apapun. Katanya, dia sudah bosan berurusan
dengan polisi. Kuberitahu ya, jika kau ingin membuat sebuah penelitian atau
semacam artikel di surat kabar mengenai sejarah wilayah ini; carilah wanita tua
bernama Odelia di sekitar sini. Dialah orang yang tepat untuk dijadikan sumber.
Dia tahu seluk-beluk area ini lebih baik dari seorang sejarawan sekalipun.
Kau pikir di
kota London yang termasuk ke dalam salah satu kota berbiaya hidup tertinggi ini
tidak ada wilayah atau tempat seperti yang kuceritakan? Lagi, aku tidak
menyebutkan nama areanya karena aku tidak mau menyinggung orang-orang yang
tinggal dan besar di sana. Ada orang-orang baik di antara mereka. Setidaknya,
ini yang dapat kulakukan untuk mereka. Ngomong-ngomong, T juga mencari di tempatku
bekerja. Mengingat aku bekerja paruh waktu, maka dalam satu hari aku bisa
mengerjakan 2-3 pekerjaan yang berbeda. Dia mendatanginya satu persatu, namun mereka
juga tidak tahu ke mana aku pergi.
Aku merasakan
waktu berlalu dengan cepatnya sewaktu aku merasakan udara sepoi-sepoi di sebuah
restoran outdoor di L.A. Tiba-tiba…
seorang pria berjas hitam, bercelana jeans
lusuh dan beranting ini menghampiriku dengan semangatnya. Memegang tanganku bak
seorang penggemar yang tanpa sengaja bertemu idolanya di tempat yang tidak
terduga seperti ini. Merapikan rambutnya yang jelas terlihat tidak terawat
dengan potongan yang tidak jelas pula. Tato berupa tiga baris kalimat berhuruf
Rusia tampak di bawah kaos V-neck polosnya
ketika dia mendekatiku.
Dengan cepatnya
dia bicara. “Aku yakin, benar ini kau. Aku mencarimu ke mana-mana. Ya Tuhan,
aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Akhirnya, kita bertemu juga.”
Memelukku erat. “Ya ampun… kau tahu betapa senangnya aku bisa bertemu denganmu
di sini.”
“Tunggu… kurasa
kau salah orang. Aku tidak mengenalmu.” Melepaskan pelukannya seraya membuka
kacamata kotak yang bingkainya berwarna biru muda.
“Lihat aku baik-baik.”
Sejenak kuperhatikan wajahnya, namun sedikitpun aku tidak mengenalinya. “Kau
pernah menyiramku di gang dekat rumahmu. Tengah malam.” Aku mencoba
mengingatnya. “Mengisap ganja. Kau menyiramku yang sedang tidak waras dengan
seember air.”
Terkejut. “Haa…” Membuka mulutku. “Ya,
aku ingat. Waktu itu, nyanyianmu sungguh membuat telingaku gatal. Aku berhutang
permintaan maaf padamu, ya? Apa untuk itu kau menghampiriku dan memelukku?
Tapi, kau tidak terlihat begitu. Kau tampak gembira ketika mengenaliku.”
Dari situlah…
perbincangan berlanjut dan dengan santainya sembari ditemani minuman dingin dan
sepiring buah-buahan segar dan cheesecake
yang lembut. Dapat kurasakan es teh campur buah-buahan seperti nanas dan mangga yang segar di sedotan pertama.
Saat itulah, pertemanan kami dimulai. Bukan berarti bertemu dengannya yang
berprofesi sebagai tattoo artist, lalu
tiba-tiba aku menyukai tato. Tidak. Aku memang tertarik untuk menato tubuhku,
namun aku tidak siap untuk berkomitmen bahwa tato akan selamanya berada di
tubuhku. Jadi, yang sering kulakukan untuk menyalurkan ketertarikanku adalah sebatas
tato henna yang bertahan selama ± dua
minggu saja. Aku senang sekali melihat telapak maupun punggung tanganku yang
dipenuhi oleh motif ciri khas India sewaktu tatonya baru saja selesai dengan
tinta yang masih basah.
Mendengar itu,
dia mengajakku ke studionya. Dia bersedia membuatkanku tato seperti yang ada di
film-film itu. Bukan hanya bersedia, melainkan menawarkannya. Merekomendasikan berbagai
design ‘tato aman.’ Itu adalah
istilahnya untuk pemula atau orang yang baru pertama kali ditato. Tato aman
biasanya berukuran kecil sehingga mengurangi nilai kemungkinan akan disesali
nantinya. Biasanya ukurannya tidak lebih dari 5 cm dan memiliki nilai
sentimentil bagi orang tersebut. Design-nya
pun bisa dibilang aman, misalnya peri, nama seseorang yang kau sayangi, tulisan-tulisan
bermakna yang menyangkut keluarga atau berupa simbol-simbol.
Kuperhatikan
bawah punggungku di cermin. Aku mengambil resiko dengan ukuran tato yang cukup
besar dan design yang tidak bisa
disebut sebagai tato aman. Gambar awan dan bintang di malam hari tampak seperti
pemandangan langit yang sesungguhnya. Belum lagi, warna bulannya yang kekuningan.
Mengintip di balik awan berarak itu.
Dia menatap
tajam saat melihatku mengeluarkan dompet dari tas Mulberry-ku. “Apa itu dompet?
Apa kau mau membayarku? Kau pikir aku mau menerima uangmu?” Bicaranya cepat
sekali.
Terkejut akan
ucapannya, aku terdiam sejenak. Meletakkan alat-alatnya kembali. “Sebaiknya kau
jangan datang kemari lagi, jika kau ingin membayarku.” Mendengus. “Ck…”
Aku merespon
dengan berujar, “Apa? Aku kan hanya… …
Oh… apa kau tersinggung? Sungguh… aku tidak bermaksud. Ini kan memang
sudah seharusnya.”
“Dengar… kau ini
bukan sekedar klien bagiku. Itu sebabnya, aku membawamu ke studio pribadiku.
Dan aku tidak akan meminta bayaran darimu. Sedikitpun tidak.” Menaruh sarung tangannya.
“I’m sober. Aku memutuskan untuk di
rehabilitasi karena ucapanmu yang begitu menyebalkan.”
Aku tersenyum
sementara jarinya menghitung. “Kau menyebutku
gelandangan. Hidupku menyedihkan. Belum lagi, disiram air,” lanjutnya. Benar,
aku melakukannya. Aku jadi ingat apa saja yang kuucapkan waktu itu.
“Anggap saja,
ini adalah caraku berterima kasih karena telah membantuku menemukan jalan dan mengembalikan
hidupku kembali. Lagipula, kau juga tidak mau menerima apa-apa dariku ketika kukatakan
ingin melakukan sesuatu untukmu sebagai tanda terima kasih di restoran tadi.”
Sedikit terharu mendengar ucapannya.
“Aku hanya ingin tidur. Hari itu sangat melelahkan.” Dia melipat kedua
tangannya sembari menatapku tajam.
“Baiklah.” Kumasukkan
dompetku kembali. “Sempat terpikir kau akan menyerangku sewaktu aku membuang
ganja yang kau pegang. That was pretty
intense, anyway.”
“Aku bahkan
tidak punya kekuatan untuk berjalan lurus ke arahmu. Dengar… kau bisa datang
kapanpun kau mau. Bawa gambar dan design yang
kau suka dan aku akan membuatkannya untukmu.” Memegang kedua tanganku. “Hubungi
aku jika kau berada di L.A. Aku selalu meluangkan waktu untukmu.”
T yang pindah ke
sini setengah tahun lalu dan memiliki studio tato yang ruangannya cukup banyak
ini menolak dibayar. Dia menegaskan. “Awas saja… jika kau mengeluarkan dompetmu
lagi di sini.”
Tidak lama
kemudian, seorang pria keturunan Amerika Latin masuk tanpa mengetuk pintu. Gaya
rambutnya yang klimis, gesture kemayu
dan kemejanya yang rapi adalah hal pertama yang mataku perhatikan. Hm… aku tahu
gaya berbusana semacam ini. Dia melihatku dengan senyum lebarnya. Mencium kedua
tanganku.
“Akhirnya, dia
menemukanmu. Jadi, wanita tanpa nama yang sering dibicarakannya itu adalah kau
rupanya.” Suaranya pelan, namun cukup terdengar oleh kami bertiga.
“Dia meneleponku
dengan suara terisak.” Aku menoleh pada T yang wajahnya memerah. Sedikit kesal
karena membocorkan rahasianya.
“Sudahlah, dia secara
resmi menjadi bagian dari keluarga kita. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi.”
Tanpa bertanya
pun aku sudah tahu bahwa mereka memiliki hubungan. Surprisingly, Bernardo tanpa
ragu langsung memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya. Gaya busana seperti yang
dia kenakan memang menunjukkan jati dirinya yang suka sesama jenis alias gay. Pria bersepatu lancip ini seorang fashion consultant di sebuah department store ternama yang menjual
berbagai macam busana high end.
Oh… ya, setelah
itu, kau tahu apa yang kami lakukan? Yeah…
shopping! Menghabiskan waktu bertiga bersama kedua orang ini sangat
menyenangkan. Bernardo dengan senangnya memadu-padankan dress dan sepatu yang bahkan belum kucoba. Aku, orang setengah Asia
berkewarganegaraan Inggris yang memiliki tinggi badan 162 cm dan memiliki Ibu
berkulit putih layaknya orang Barat; tentu aku harus lebih teliti mengenai busana
yang akan kubeli. Aturan ‘mainku’ hanya satu; semua busana yang kukenakan harus
sesuai dengan postur tubuhku. Standar, bukan? Cutting-nya yang pas di badan dan nyaman merupakan my absolute code ethic. Jika tidak
sesuai aku tidak akan memasukkannya ke dalam kantung belanjaanku, meski aku
sangat menyukainya.
Dengan percaya
dirinya aku melangkah keluar seraya memakai kacamata hitamku. Sesekali melirik
pada sepatu baruku. Berjalan sembari bersenandung. Ngomong-ngomong, ini jalan
apa, ya? Pikiranku teralihkan oleh jajanan di pinggir jalan. Humph… uang Korea-ku lebih banyak koin.
Entah apa ini cukup untuk membelinya mengingat aku ingin mencoba semuanya.
Terutama, spicy rice cakes yang
berwarna merah mengilap itu. Penjualnya sedang mengaduknya, sementara para
pembeli sedang menikmati hidangannya. Lewati saja, lagipula aku tidak cukup
lapar untuk bergabung makan bersama mereka. Baiklah… kuputuskan untuk naik bis
saja ke tempat tujuan yang aku sendiri belum tahu. Tapi, bukankah ke mana aku
pergi itu tidak penting? Menurutku, keberanian untuk memutuskan naik adalah hal
yang terpenting.
Biasanya, aku memilih
suatu tempat atau kota tujuanku langsung di tempat; misalnya di terminal kereta
atau pemberhentian bis seperti sekarang ini. Untung saja… aku memiliki ‘kartu
ajaib’ ini. Bukankah menarik, barang yang menurut penduduk suatu dearah, kota, Negara
merupakan barang yang biasa saja, namun bagi kami; turis barang ini bernilai
lebih dari sejumlah uang. Memang bukan terdaftar atas namaku, tapi dia bilang aku
bebas menggunakannya semauku.
Kata pria
berdasi hijau itu, “Gunakanlah saat Anda naik kereta maupun bis. Kuharap ini
bisa membantu perjalanan Anda.”
Mereka datang
untuk menyambut sekaligus mengajak kami tour
di sekitar kota. Karena kami menolak, dia berpikir bahwa kartunya akan
sangat membantu saat kami bepergian. Sepertinya dia tahu kami tidak suka travelling formal seperti itu. Rupanya
dia menyelidiki kebiasaan kami juga.
Salah satu dari
tiga orang yang menjemput kami di airport
meminjamkannya. Fred tidak tertarik sama sekali, maka dia menyerahkannya
padaku. “Tidak usah khawatir tentang mengembalikannya. Nyonya bisa
menggunakannya seakan milik Nyonya sendiri. Silakan ambil.”
Karena tempat
yang ingin kudatangi berada di luar kota, aku sedikit ragu memutuskannya. “Dia
pasti kesal jika aku tidak hadir dalam meeting.”
Kuintip isi
dompetku. “Sepertinya ini cukup.” Sudahlah… aku jalan kaki saja. Hitung-hitung
menjelajahi kota. Eh, apa ini masih di Seoul? Hm… biarlah… lebih baik tidak
tahu. Dengan senyum tipis aku berjalan ke arah traffic light.
Menyebrangi
jalan tanpa berpikir dua kali. Membaur dengan orang-orang yang jasnya dilepas
dan dasinya yang dilonggarkan. Kebanyakan dari mereka memegang minuman bersoda
dan minuman dingin lainnya. Melewati pohon-pohon yang sengaja ditanam
berdekatan agar mengurangi udara panas di jalan. Terlebih, satu bulan ini sudah
memasuki musim panas.
Tentu, di antara
mereka terdapat beberapa pria yang bukan sekedar pegawai kantoran. Pantas… aku
merasa ada yang mengikutiku. “Ough… menyebalkan!”
Menoleh untuk memastikannya.
Benar saja,
ketiga pria berpakaian layaknya di pantai itu menghindar dan bertingkah seperti
turis saat kuhampiri. Pertama-tama, aku memercepat langkahku. Menghindari
pandangan mereka dengan berdiri di depan seseorang sebelum kembali berjalan
cepat. Kemudian, secepat kilat aku berlari. Sekali lagi aku menoleh, benar mereka
mengejarku. Membuka penyamarannya.
Beberapa orang
yang duduk berteduh di kursi memandangiku keheranan. Bahkan pasangan kekasih
yang tadinya sedang berpegangan tangan dan saling memandang penuh cinta pun
beralih memandangku kesal. Ya, aku tahu itu. Aku terima pandangan mereka. Aku
memang sudah menghancurkan ‘waktu berkualitas’ mereka. Aku balas dengan meminta
maaf menggunakan bahasa setempat dengan tidak melambatkan langkahku sambil berulang
kali mengucapkannya. Sekilas, kulihat
langit yang cerah. Langit biru yang dihiasi awan putih yang rasanya ingin
kusentuh.
“Ya Tuhan…
kenapa dia tidak bisa membiarkanku sebentar saja? Ini bahkan belum satu jam.
Dia mengutus mereka untuk ‘menangkapku.’ Ck… meeting kan nanti malam.” Nada suara mengeluh sembari terus berlari
mengecoh mereka.
Masuk ke dalam
gang yang ada di samping restoran sup. Rumah berpagar kayu setinggi dada bercat
coklat tua yang kulewati terbuka. Kembali dan masuk tanpa izin ke property orang lain yang membuatku
diusir menggunakan sapu lidi panjang. Aku kira tidak ada orang di rumah,
rupanya Nenek itu sedang memerbaiki sapu lidinya. Sepertinya dia kaget,
sehingga reflek memukulku. Membungkuk 90o sambil berkata maaf,
kemudian kembali mengecoh mereka yang ternyata ada di belakangku. Wah… cepat
juga mereka. Oh… tentu saja, suara berisik itu secara tidak langsung
memberitahu di mana aku berada.
“Kalian
lumayan.” Menoleh seraya tertawa kecil. Seruan semangat melihat wajah mereka
yang mulai berkeringat. “Tapi, kalian masih kalah cepat denganku. Lihatlah
sepatuku! Cobalah berlari mengenakan ini.”
Whoa… aku sulit mengendalikan kakiku ketika menemui
belokan begini. Terlebih, terdapat beberapa orang yang sedang main kartu di
sana. Ditemani potongan kecil semangka serta kipas angin yang memutar. Untung
saja… aku tidak menabrak mereka. Berbeda dengan ketiga pria itu yang dua dari
mereka terpeleset untuk menghindari tubrukan. Kulirik dua pria yang berusaha berdiri
dengan telinga yang panas akibat omelan warga setempat. Kemudian, datang pria
yang berada paling belakang sekaligus yang terakhir.
“Bruggg…” Dia
menabrak kedua temannya itu. Mereka berguling di samping deretan kursi-kursi
plastik berwarna hijau tua. Pria bercelana hitam garis biru tersebut tampaknya
marah pada kedua rekannya. Suaranya sampai terdengar ke sini.
Itulah sebabnya, aku melambatkan lariku.
Berjalan dengan santainya sembari mengusap keningku. “Beres.”
Namun, semenit
kemudian suara langkah kaki mereka terdengar dekat. “Ayolah… setidaknya kalian
makan terlebih dahulu semangka itu. Baru setelah itu mengejarku kembali. I’ll be around here.” Mendengar
ucapanku, mereka justru berhenti. “Apa mereka mengerti ucapanku.”
Memerhatikan
aba-aba dari pria bercelana hitam garis biru itu. Lalu, berpencar. Apa?
Memerhatikan mereka yang berlari ke berbagai arah di gang yang tidak luas ini. Bergumam
melihat ke arah mereka pergi. “This is
not good. I’ll better get going.” Dengan kikuknya aku kembali mencari jalan
di gang ini.
Tidak kapok, aku
bersembunyi di salah satu rumah warga. Berdasarkan kejadian yang pertama,
seharusnya aku mengecek keadaan rumahnya terlebih dahulu. Tapi, mana sempat aku
mengecek apa ada orang atau tidak di saat-saat begini. Perlahan aku jalan
membungkuk di balik tanaman yang tumbuh tidak terlalu tinggi. Menekuk kakiku
agar tidak terlihat dari balik tanaman tersebut. Mengendap bak remaja 16 tahun
yang sembunyi-sembunyi pergi ke klab malam. Anak yang sedang bermain tanah
terdiam sejenak memerhatikanku. Mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti.
Kalimatnya cukup panjang untuk penguasaan bahasa Korea-ku yang minim.
Dari gesture-nya sepertinya dia mengajakku
bermain. Anak perempuan berusia sekitar 6-7 tahun ini kelihatannya tidak takut
pada orang asing sepertiku. Dia bahkan tidak terkejut ketika melihatku
mengendap-endap. Sisi sepatu putihnya penuh dengan lumpur. Pipinya yang bulat
dan memerah bak menggunakan blush on. Baiklah…
aku ikut saja apa yang sedang dilakukannya. Rupanya dia senang ditemani
bermain. Setelah keadaan aman, maksudku tidak terdengar suara dan langkah kaki
mereka; aku putuskan untuk segera keluar dari sini.
“Baiklah… aku
harus pergi. Terima kasih sudah menolongku, adik kecil.” Mengelus kepalanya. “Dan
lebih baik jangan katakan apapun pada orangtuamu.” Menaruh jari telunjuk di
depan bibirku. “Sst… kau mengerti maksudku, kan?”
Dia menganguk. “Oh…
yakso?” Dia menunjukkan jari
kelingkingnya. Maaf jika penulisannya salah, aku hanya menulis apa yang
kudengar. Saling melingkarkan kelingking masing-masing.
Sedikit membungkuk
seraya mengucapkan terima kasih. “Kamsahamnida.”
Dia berdiri. Membalas
dengan membungkuk lebih rendah dengan kedua tangan di pusarnya dan terdengar kata,
“Anyong.” Melambaikan tangan,
ditambah senyum di wajah polosnya.
Kubalas lambaian
tangannya di gerbang rumahnya. Aku meregangkan tubuhku sesaat setelah keluar
dari gang yang tembus entah di jalan apa. Tentu saja, aku kan sama sekali tidak
bisa membaca huruf Korea. Sewaktu di Jepang pun begitu. Tidak bisa membaca
huruf kanji karena aku terlalu fokus
pada goresan hurufnya yang rumit daripada mengingat arti hurufnya. Hanya
kata-kata dengan goresan kanji sederhana
saja yang dapat kubaca. Kau tahu… menulis huruf kanji itu ada urutannya. Jika kau tidak mengikutinya dengan benar,
huruf kanji-mu akan terlihat aneh.
Goresan yang saling tumpang tindih tidak beraturan justru akan diartikan berbeda
dari arti yang sebenarnya.
Kurapikan
pakaianku. Menyadari kacamata yang terjatuh saat berlari tadi, aku beralih merapikan
poniku agar sedikit menutupi mataku. Bersiap-siap untuk menghalangi pandangan
orang setelah keluar dari gang.
Tiba-tiba aku
mendengar, “Mencari ini.” Itu jelas suara Fred. Dia berjalan mendekatiku dan as expected tangannya memegang
kacamataku.
Di langkah
keduaku ini aku harus kembali berlarian di jalanan kembali. “Baiklah… siapa
takut.” Kubuat menyenangkan dengan diselingi seruan-seruan yang saling kami
lontarkan, meski bicaranya harus sedikit keras.
Tentu, dia
memotretku. Dia menjadikan ini bak permainan fotografinya. ”Moira, lihat ke
belakang. Bagus. Ya, seperti itu.”
Tanpa sadar, aku
mengikuti ucapannya. “Rambutmu, rapikan sedikit.” Kemudian, “Nah… begitu.
Cantik. Cantik sekali,” lanjutnya.
Tersadar aku bergumam,
“Eh… kenapa aku mengikuti ucapannya, ya?”
“Moira… lihat
sini…”
“Can you stop taking my snapshot? I’m on the run if you don’t realize.” Berlari
menghindari para pejalan kaki.
“Aku tahu. Memangnya
apa tujuanku kemari? Membawamu jalan-jalan tanpa membawa kamera, begitu? Itu
bukan gayaku sama sekali.”
“Ya. Tentu saja
tidak,” balasku lantang.
“Kupikir ini
akan menjadi foto yang bagus. Dan aku benar.” Perlu diingat, kami masih dalam
keadaan bergerak.
Mengatakannya
sedikit kesal. “Yeah… right.” Berjalan
cepat di antara dua orang yang saling berpegangan. “Sorry” seraya melirik pada mereka.
“Penilaianmu
tidak pernah meleset, kan?” Menoleh padanya. Secepat itu dia mengganti
kameranya dengan kamera video. Ck… di
mana dia menyimpannya?
Eh… tunggu dulu.
Kerumunan apa di sana, ya? Rupanya sebuah toko sedang mengadakan obral. Ini
kesempatanku. Tapi, tidak jauh dari sana terdapat kios yang menjual
‘manis-manis.’ Apa itu manisan buah? Aku suka sekali manisan buah. Terakhir
kali aku memakan manisan buah sewaktu aku menghabiskan malam tahun baruku di
sebuah pasar malam di Hongkong. Mereka menyebutnya tanghulu. Seingatku warna luarnya agak kemerahan. Lapisan gula yang
melapisinya memberi kesan mengilap. Masih kuingat buahnya yang agak keras saat
digigit, namun lembut di dalam layaknya buah-buahan segar. Cherry adalah pilihan favoritku. Di sana aku juga sempat mencoba jianbing yang bisa dibilang martabak ala
China.
Sebagai pelepas
dahaga, aku membeli naicha. Aku tidak
tahu minuman apa ini, tapi Fred bilang rasanya lumayan. Rasanya seperti teh
susu. Yang membuatku selalu ingat akan jajanan di pasar malam itu adalah chou doufo atau lebih dikenal dengan
sebutan ‘tahu bau.’ Namanya saja sudah cukup mengerikan, bukan? Banyak turis
yang berjajar saat kuhampiri penjualnya dari kejauhan. Lihat wajah mereka! Ekspresi
aneh seperti mau muntah atau mengendus-endus terlebih dahulu, lalu menjauhkan
tahu dari wajahnya membuatku semakin penasaran akan aromanya. Tertawa geli
karena rasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya dan tidak pernah
dibayangakannya pula ataupun wow moment dengan
raut wajah yang berbeda. Turis asal
Jerman itu menutup rapat hidungnya ketika potongan tahu kecil masuk ke
mulutnya.
“Ya ampun…”
Mulutku terbuka. Kujauhkan tahunya dari hidungku. Bertanya pada sekelilingku.
“Apa kau yakin? Uuh… aromanya…” seraya
tertawa kecil, kemudian meluruskan tanganku bermaksud agar jaraknya tidak
terlalu dekat. Mereka jawab dengan mengangguk.
Adapula yang
ikut tertawa. Mengerti maksudku? Kau pernah lihat reaksi seperti ini, kan? “Tapi…
Aku bisa mencium…” lanjutku. Dengan cepat menutup hidung dan mulutku.
Ngomong-ngomong,
tahu bau bisa disajikan dengan saus kacang maupun saus kecap. Digoreng ataupun
direbus, menurutku baunya tidak jauh berbeda. Tapi, penjualnya bilang rasanya
lebih enak jika direbus. Entah bagimana rasanya mengingat Fred kalah taruhan,
jadi dia yang memakannya. Satu potong tahu bau mau tidak mau harus
dihabiskannya. Peraturan yang dibuatnya sendiri, tentu harus dia patuhi, bukan?
Sementara aku merekam aksinya yang ‘didukung’ dan disoraki oleh para turis
mancanegara maupun lokal, dia menahan isi perutnya yang akan keluar.
Awalnya begitu,
dia merem-melek. Wajahnya memerah dengan cepat. Lalu, meminum banyak air agar
tahunya tertelan. Melewati tenggorokan dengan sendirinya. Setelah lidahnya
beradaptasi, katanya lama kelamaan rasanya tidak begitu buruk. Baunya saja yang
‘luar biasa’ menyebar di indera penciumannya. Apa ya nama sepanjang jalan itu? Hm…
jika tidak salah itu di kawasan Mongkok. Aaa… waktu itu aku berada di Ladies
Market.
Maka dari itu, aku
harus mencoba manisan buah versi Korea. Aku kembali pada penjual yang
mengenakan pakaian hitam dengan motif bunga-bunga yang ketinggalan zaman seraya
memilih ‘sate’ buahnya. Tanpa lama, kuserahkan tiga koinku. Menggigitnya dan
otomatis bergumam, “Huumm…”
Ini yang
kubutuhkan hari ini. Satu potong buah sedang kukunyah. Kubuka mulutku untuk
buah yang kedua, tapi wajah Fred yang muncul di balik sebuah kios menghentikanku.
Kubelah kerumunan sembari menarik nanas dari tusukannya menggunakan gigi
depanku. Berlari merunduk. Meletakkan manisan buahnya di depan dadaku agar
terlindungi.
“Why are you doing this to me? Like all the time.
And it’s getting worse in the past few months, even when I’m on vacation.”
“Ayolah… jangan
terlalu mendramatisir. Besides, I don’t
know this is going to be so much fun.”
Mendengus. “Liar. It’s for one or your project, right?”
Berhasil keluar dari padatnya orang-orang yang rata-rata sedang berbelanja.
Dia melanjutkan
ucapannya yang sempat terpotong karena menabrak tiang besi sebuah kios kudapan Korea.
“Harus kuakui, ya. Pengambilan gambar ini adalah salah satu dari sederet
rencana yang terpikirkan sesaat setelah kau naik bis.”
“Kau ‘beraksi’
tanpa arahan siapapun, pergi ke manapun kau mau, melakukan apapun yang kau
inginkan; sementara aku yang merekam setiap gerak-gerikmu,” jelasnya. “Banyak
hal yang tidak terduga terjadi. Itu yang kusuka.”
Jeda sesaat,
kemudian berkata, “Unscripted. Isn’t it
so much fun?” Lalu, suaranya menghilang di kerumunan.
Yes, dia tidak bisa mengejarku. Kurasa… aku
sudah cukup jauh dari kerumunan. Lebih baik aku kembali masuk gang. Dari sini
aku dapat melihat pemberhentian bis. Masih dengan manisan buah yang tinggal
lima atau empat potong lagi, tiba-tiba dia berdiri tidak jauh dariku. Rupanya
dia bukan tidak bisa mengejarku; melainkan memotong jalan atau mencari jalan
pintas. Ah… aku lupa, dia memang pintar dalam hal ini. Maksudku, dia pasti bisa
menemukan pola pintu keluar meski berada di sebuah labirin pun. Lihat… dia
sedang merekamku dari trotoar dekat lampu lalu lintas.
Bergumam, “Kau
ingin aksi, aku berikan kau aksi.” Tanpa ragu aku menyebrang di lampu lalu
lintas yang masih berwarna hijau.
Melihatku yang
menoleh seraya tersenyum tipis membuatnya segera bergegas. Bukan untuk mencegahku
atau menyelamatkanku, melainkan tidak ingin ketinggalan aksinya. Khawatir
padaku, tidak. Takut terjadi hal buruk padaku juga tidak. Dan senang, sepertinya
ya. Dia kelihatan bersemangat.
“This is what I’m talking about,” serunya. Kameranya
mengikuti ke manapun kakiku melangkah.
Dia bilang ketegangan
menyenangkan seperti ini yang membuatnya ketagihan. Tidak heran bukan dia
menyukai berbagai jenis extreme sports? Inilah
alasan kenapa dia selalu ‘mengejarku.’ Dia pasti mendapatkan moment; beberapa detik ketika aku
melompat di sampingnya yang tidak jauh darinya. Baguslah… ini akan menjadi scene yang bagus jika dibuat slow motion mengingat dress-ku ikut melayang bersama tubuhku.
Manisan buah
yang lapisan gulanya sedikit meleleh karena kepanasan. Kaki yang terangkat
dengan sepatu hak tinggi yang terlihat bersama wajahku yang lebih gelap
menutupi sinar matahari dipotretnya. Langit yang cerah dan awan yang besar
menjadikan hasil fotonya nanti menjadi jauh lebih indah. Dia sudah mahir dalam
mengganti kamera yang dikalungkannya. Barusan, dia sedang merekamku dan
sekarang terdengar suara jepretan foto. Aku sendiri bahkan tidak sempat melihat
ketika dia mengganti dua kameranya. Pergerakan tangan yang cepat, bukan?
Kau pasti
berpikir bahwa kakak macam apa yang membiarkan adiknya sendiri berada dalam
bahaya. Ya, itulah Fred. Dia melindungiku dengan caranya yang nanti kau akan
tahu. Dia tahu benar kemampuanku. Hal apa yang dapat dan mampu kulakukan.
Lagipula, aku juga tidak bodoh dengan membiarkan diriku terluka atau berada
dalam situasi berbahaya. Bisa dibilang aku sudah memerhitungkannya. Terjadi
kebisingan karena aku bak seorang polisi yang sedang mengejar pelaku kejahatan
di jalanan. Tanpa menoleh kanan kiri atau berhati-hati terhadap mobil-mobil
yang melaju di sekitarnya, dia tetap ‘membuntutiku’ seakan tidak menyadari
resikonya.
Mereka
membunyikan klaksonnya. Mengerluarkan kepalanya dari jendela mobil dan
berteriak. Dalam situasi begini, sepertinya pria itu berteriak, “Apa kau ingin mati?”
Seorang pria
bermobil Hyundai jenis terbaru itu menggerakkan tangannya seakan berkata,
“Minggir!” Jika ada yang melaporkan kejadian ini atau ada polisi yang sedang
patroli di sekitar jalan ini, maka aku dalam masalah. Beruntung, tidak ada
kamera CCTV yang dapat merekam semua aksi spontan yang kami lakukan.
Pria lainnya
berkata, “Apa kau sudah gila?” Kurasa itu arti dari intonasi teriakannya
barusan.
Yang kulakukan
ini jelas melanggar hukum. Aku tahu itu, tapi aku tetap saja tidak mundur. Sebut
aku wanita badung, aku tidak akan menyangkalnya. Kulirik Fred masih berada di
sampingku. Beberapa langkah di belakangku dan tidak melepaskan kamera video
dari tangannya. Dia justru harus jauh lebih berhati-hati mengingat dia terus
merekamku di tengah jalan raya begini. Tidak memerhatikan langkahnya dengan mobil-mobil
yang berlalu-lalang. Bagaimana jika dia tertabrak?
Bukankah itu
yang ada di pikiran kalian semua? Tapi, tidak. Dia akan melewatinya dan
mendapatkan apa yang diinginkannya. Atau bagaimana jika akibat ulah kami
terjadi kecelakaan beruntun? Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku katakan
sebelumnya bahwa semuanya sudah kuperhitungkan. Aneh dan tidak dapat dimengerti
memang, tapi beginilah. Aku sendiri tidak tahu harus mulai menjelaskannya dari
mana.
Orang-orang
membuat kerumunan seolah kami ini sebuah tontonan menarik. Mungkin, mereka
pikir kami sudah tidak waras. “Ciiittt….” Suara ban yang berdecit justru membuatnya
mengubah sudut pengambilan gambar.
No comments:
Post a Comment