Pages

Tuesday, 10 April 2012

Kelima



Chapter 1



Kukalungkan kamera barbie star-ku, kemudian mengeluarkan my summer Burberry bag dari jendela mobil sedan semi-limo hitam yang kutumpangi bersama kakak lelakiku. Mengeluarkan tubuhku dari kaca jendela yang kubuka lebar. Tanpa sepengetahuannya, aku memberi aba-aba pada supir agar menurunkan kecepatan mobil. Perlahan berhenti di bahu jalan. Demi keselamatan kami semua, aku tidak bisa lompat begitu saja dari mobil yang berada di jalur cepat. Apalagi, situasi jalan raya cukup ramai. Siang ini kami sedang berkendara di atas jembatan yang rata-rata dilewati oleh banyak kendaraan yang melaju kencang.

“Bruk…” Tasku jatuh di jalanan. Tidak lama, kaki kananku menapak di aspal yang panas ini tanpa alas kaki. Kuku kakiku yang berhias nail polish berwarna biru metalik tampak berkilau.  

Aku bergumam. “Oh… untung saja… dia sedang sibuk.” Satu tangannya memegang telepon genggam edisi terbatasnya dan tangan lainnya menyentuh layar tablet PC-nya. Segera kukeluarkan kakiku seraya meraih tasku, tapi kakakku, Fred rupanya menyadari angin yang masuk dari jendela yang barusan kubuka.

Dia menarik lenganku. Sontak aku terkejut. “Mau pergi ke mana kau?” Berusaha melepaskan tangannya.

Lantang dia menyebut namaku. Dia kerepotan menaruh dua gadget-nya itu. Dress yang kira-kira 5 cm dari lututku dengan design one shoulder berlengan panjang yang lebar dan berwarna cerah khas musim panas yang kukenakan tidak bisa digapainya.

Bersamaan dengan itu, Koichi, asisten pribadiku yang sudah berada di luar mobil memanggilku. “Nyonya… jangan lakukan ini lagi. Jujur, apa kau tidak pernah merasa lelah, Nyonya?”

“Tap… tap…” Aku berjalan cepat menuju trotoar. Di sampingku terhampar entah sungai atau laut yang membatasi satu kota dengan kota terdekat. Memancarkan sinar matahari yang terpantul di aliran air yang tenang. Mobil-mobil melambatkan lajunya seakan melihat kecelakaan di jalan raya.

“Berapa kali kubilang jangan memanggilku seperti itu. Bukankah usiaku terlalu muda untuk dipanggil Madam?”

Kulihat bis berwarna hijau pudar baru saja lewat. Baiklah… aku ada ide. Aku melompati pembatas jalan. Berlari menuju bis. Seolah mengerti akan pandangan mataku pada bis itu, Fred dengan cepat mengeluarkan kepalanya dari jendela bak turis yang sedang melihat betapa tingginya gedung-gedung pencakar langit di pusat kota.

Melepas kacamata hitamnya. “I told you, get back here! Moira Sakura April Rosanna Eshkert, if you not get inside right now, I’ll… …”

Mendengarnya tidak membuatku melambatkan langkahku. Aku justru menghiraukan ucapannya. Bergegas mengejar bis yang jaraknya tidak jauh itu. Rambut panjang bergelombangku melayang-layang di udara. Sesekali aku menengoknya yang kesal seraya tetap memotretku. Bagaimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun juga dia selalu mendapat objek untuk kesenangan dan gairahnya dalam hidup. Ya, fotografi. Terkejut? Apa kau pernah menduga seseorang berdarah biru seperti dia memiliki ketertarikan dalam semua hal yang berhubungan dengan lensa? Para pria di dunianya berkecimpung dalam berbagai bisnis termasuk hotel dan restoran, saham atau dunia politik yang sama sekali tidak disukainya.

Dia yang banyak orang sebut sebagai fotografer yang hasil karyanya selalu mengagetkan dengan model dan pose yang tidak terpikirkan which turns out unbelievably spectacular. Tidak terduga dan terkadang menggelikan. Dia bak memiliki 100 cara untuk mendapat foto yang dia inginkan. Justru itulah yang membuat foto-fotonya dinanti dan dirindukan untuk di-post di laman-laman web resminya. Dia dikenal sebagai fotografer yang ‘angin-anginan’ saat bekerja. Mudah bosan. Tiba-tiba menghilang saat jam kerja atau kebiasannya yang merepotkan adalah mengganti model ketika pemotretan berlangsung. Kau tahu kan… itu bukan wewenangnya.

Namun, dia tetap memaksakan kehendaknya pada kliennya. Dia merasa bahwa dia berhak berpendapat karena nantinya, namanya akan dicantumkan jelas. Dan jika hasilnya buruk, dia tidak mau disangkutpautkan. Dia juga bilang bahwa dia justru membantu mereka agar dapat meningkatkan citra brand atau busana kliennya. Jadi, apa salahnya jika dia cukup vocal menyangkut credibility-nya. Oh… ya, kau tahu… seseorang yang menginginkan jasanya layaknya seorang promotor. Ibaratnya, harus mengikuti semua pemintaan penyanyi yang diharapkan akan mampir untuk menggelar konser.

Dia berbisik padaku bahwa semua pemintaannya itu adalah harga dirinya. Dengan begitu, dia merasa diistimewakan mengingat dia senang diperlakukan begitu. Katanya, semua orang pasti senang jika kepentingannya selalu didahulukan. Dia juga bilang bahwa merasa diistimewakan adalah hal baik. Ya… begitulah anak orang kaya yang dipanggil Tuan muda sedari kecil. Dan hasilnya, mereka akan menghargainya. Bukan hanya dirinya saja, pada hasil jepretannya juga.

Satu hal lagi, dia memasang tarif untuk setiap pemotretannya. Meski bukan itu yang dia cari, tapi dibayar dengan harga yang pantas atau memasang harga itu sangat penting agar tidak dipandang sebelah mata oleh kliennya. Ujung-ujungnya, ini adalah bisnis. Lagipula, ada para staf yang harus digaji. Aduh… gawat. Kenapa aku membaginya pada kalian, ya? Aku seharusnya tutup mulut mengenai ini. Sstt… jangan bilang-bilang aku mengatakannya. Ingat, ini adalah rahasia di antara kita, ok.

Meski begitu, aku mengenalnya sebagai orang yang sangat mencintai profesinya. ‘Menggilai’ kamera. Ups… apa kata menggilai itu berlebihan? Entah itu kamera untuk memotret atau video camera yang digunakan untuk membuat film pendek atau dokumentasi lainnya. Dia bukan hanya sebagai camera operator atau istilah kerennya cinematographer, posisi sutradara juga dipegangnya. Menjadi orang di balik kamera, maka think out of the box. Begitu yang dia katakan padaku sambil menjelaskan pengoperasian kamera barunya itu.

Mengenai angin-anginan, maksudku adalah dia hanya akan bekerja atau menerima tawaran jika konsepnya ditanggapi serius bukan sekedar pendapat, melainkan dipertimbangkan juga. Tidak mau diatur. Dikenal sebagai ‘penggila kamera’ yang mudah naik pitam. Sulit mengendalikan amarahnya. Banyak yang bilang dia adalah hotheaded person. Meski begitu, selama ini klien-kliennya setuju mengikuti caranya bekerja, bukan sebaliknya. Bekerjasama bersama seseorang atau sebuah tim yang memiliki visi yang sama dengannya merupakan hal yang disukainya.

Berteriak kesal sembari membidikku menggunakan kamera holga multicolor yang asal diambilnya. Dia pasti cukup kerepotan menelepon, menaruh, dan mengambil barang-barangnya dalam waktu yang bersamaan tanpa melihat sambil berteriak pula. Poni sampingku yang terterpa angin sedikit mengahalangi pandanganku. Rambutku menerpa wajah yang dipulas make up tipis. Bersamaan dengan itu, Koichi mengejarku atas arahan Fred tentu saja. Belum sempat dia bicara, aku menaikkan lenganku. Kupegang tali tas yang tipis ini seraya memotret keadaan sekitar dengan pemandangan yang didominasi oleh air. Mataku jauh memandang di luar pembatas beton jembatan yang kokoh. Beberapa jepretan foto kudapatkan tanpa begitu memikirkan aspek fotografi. Kulepaskan jemariku dari kamera mengingat bisnya sudah sangat dekat. Jari-jemariku berhasil menggenggam erat sisi tangga yang terdapat di belakang bis tersebut.    

Dengan wajah sumringah aku melambaikan tangan kiriku. Tanpa memedulikan banyak mata yang melihatku di balik kaca jendela mobil mereka, aku berdiri di atas anak tangga bis tersebut. Sebaliknya, aku justru tertawa geli melihat Fred yang kesal. Menaruh kedua tangan di pinggangnya. Koichi berlari semakin kencang. Rambutnya yang selalu disisir rapi pun sedikit acak-acakan. Setelan jas hitam dengan kemeja putih dan earphone yang masih terpasang di telinganya mengingatkanku pada beberapa pengawal yang berhasil ‘kusingkirkan.’ Dia sedang berusaha menghentikan bisnya dengan membiarkan tubuhnya terlihat di spion supir. Dengan begitu, supirnya menginjak rem. Bagiku, tidaklah sulit untuk membuatnya berhenti melakukan itu.

Dengan tenangnya dan datarnya aku berkata, “Apa kau ingin aku melompat dari mobil yang sedang melaju? Baiklah…” Tubuhku condong ke depan.

Panik dia berujar cepat, “Jangan!” Dia melambatkan langkahnya.“Kalau begitu, berhentilah mengejarku.” Kembali pada posisi semula. Ucapanku mampu membuatnya sedikit menjauh dari bis yang kutumpangi gratis ini. Terlihat senyumku yang mengembang.

“Sudahlah… berhenti mengejarku. Aku janji tidak akan lama. Sudah… sana pergi. See you at the meeting.”

Kudengar suara Fred yang berteriak. “Lihat saja seberapa jauh kau bisa pergi.” Aku hanya membalasnya dengan lambaian tinggi tanganku.

Melihatku yang sudah cukup jauh dia berkata, “Ya, baiklah… Bersenang-senanglah selama beberapa jam.” 

Bergumam di tengah ramainya lalu lintas. “Kenapa akhir-akhir ini dia sering kabur, ya? Apa dia sedang perlahan-lahan menjauh dariku agar leluasa solo tour begitu? Tapi, kita kan sudah membicarakannya. Ck… ini tidak bisa dibiarkan.”

Koichi yang baru saja kembali meresponnya sembari merapikan rambut dan jasnya. “Tuan, apa yang kau katakan? Bukankah Nyonya memang senang berjalan-jalan sendirian? Mencari tempat sepi dan tenang untuk … … …”

“Ya, aku tahu itu. Kau benar. Dia pasti bisa menjaga dirinya. Dia akan baik-baik saja seperti biasanya.” Berjalan kembali menuju mobil. Menatap bis yang terhalangi oleh mobil-mobil di belakangnya.

“Mungkin, ini hanya kekhawatiranku saja.” Duduk di kursi yang berantakan oleh barang-barangnya termasuk kertas yang terlepas dari map file miliknya.

Sementara Koichi merapikannya, Fred menoleh pada sepatu berhak datar dengan aksen kain yang dibentuk bunga berwarna warni di sepanjang tali depannya. Mengambilnya lantas tersenyum tipis selagi memerhatikannya. Lalu, melihat ke luar jendela. Matahari menunjukkan sinarnya yang menyilaukan.

Berkata pada supir, “Ayo jalan.”
“Nyonya pergi begitu saja sampai sepatunya pun tertinggal. Jalan-jalan di cuaca panas begini tanpa alas kaki.” Mengeluarkan nafas panjang. “Aduh… Nyonya membuatku khawatir saja.”

“Dia pasti belum jauh,” imbuhnya.
Dia mencari dompet di tas laptopku. Di seleting dalamnya, dia menemukan my orange Hermes wallet yang berukuran 8 x 5 inches. Dia membukanya. Tersenyum tipis ketika melihat dompet yang ukurannya lebih kecil tidak ada. Dia tahu karena tasku kecil, maka aku pasti membawa dompet yang ukurannya kecil pula.

Dalam hati dia berkata, ‘Dengan uang yang tidak banyak itu, ke mana dia akan pergi?’ Lembaran mata uang Jepang lebih mendominasi dibanding mata uang lainnya.

“I’ve got an idea” seraya menatap Koichi. Mencari-cari telepon genggamnya yang tidak sengaja didudukinya. Tanpa ragu menekan tombol telepon genggamnya.  

Kira-kira 20 menit kemudian, bisnya berhenti di halte 5. Plang yang terpasang tinggi sesaat setelah aku menginjakkan kaki di halte ini yang menunjukannya. Aku merasa tidak ada yang salah dengan penampilanku. Rambutku memang sedikit berantakan, tapi selain itu semuanya baik. Tas berukuran kecil sesuai dengan dress yang kukenakan. Aksesoris berupa gelang-gelang etnik buatan tangan dan cincin yang kupakai di beberapa jemariku serta jam tangan berwarna senada dengan anting beraksen pita; semuanya ok.

Lalu… kenapa orang-orang menatapku aneh, ya? Aku membalikkan tubuhku dan menyadari diriku yang tercermin di etalase sebuah toko pakaian. Ya ampun… aku tidak beralas kaki! Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa aku terlalu bersemangat, sehingga rasa panas di telepak kakiku saja tidak terasa? Pantas… mereka menatapku begitu. Rupanya memang ada yang tidak beres dengan penampilanku. Bagaimana mungkin penampilan seseorang bisa dikatakan sempurna jika tidak mengenakan sepasang sepatu yang sesuai dengan busananya. Menurutku, sepasang sepatu itu merupakan kunci dari keseluruhan penampilan seseorang.

Ketika aku melihat ada seorang wanita yang berpakaian modis, apalagi dengan tatanan rambutnya yang sesuai; sementara mataku ‘mengidentifikasi’ sepatunya tidak cocok dengan keseluruhan busananya. Kurasa itu nilai minus mengingat dia bisa saja tampil sempurna, tapi sepatunya saja yang ‘kurang.’ Asumsikan seperti dressing di salad buah yang terlalu banyak cream, sehingga menutupi kesegaran buah-buahannya atau Mexican chili meatballs yang rasa pedasnya kurang menggigit di lidah. Ayolah… namanya saja chili, tentu rasanya harus pedas.

Sama halnya dengan penampilan dari atas sampai bawah yang seharusnya sesuai. Bukan berarti atasan berwarna merah, lalu sisanya serba merah. Tidak. Itu salah pengertian namanya. Harus ada yang ditonjolkan dari penampilannya. Entah itu sepatu, aksesoris, tas atau busananya sendiri. Aku sangat menyayangkan melihat sepatu yang terlalu sederhana dipadankan dengan gaun malam bermotif polos begitu. Tampaknya itu sepatu yang digunakan sehari-hari. Bagian belakangnya sedikit kotor dan bernoda coklat. Tidak cocok, kan? Apa kau sependapat denganku?   

Fred bilang barang-barang wanita memang merepotkan. “Kami pria bisa bepergian selama seminggu hanya dengan membawa satu koper ukuran standar saja. Berbeda dengan wanita yang perlu 2-3 koper besar. Belum lagi, koper make up yang terpisah. Apa saja yang kalian bawa? Aku bertaruh pasti banyak barang yang kalian masukkan ke dalam sana, termasuk beberapa pasang sepatu dan tas.”

“Memangnya aku seperti itu?” Mengerenyitkan dahiku. Mengingat berapa koper yang kubawa setiap kali ke airport.

“Kau memang hanya membawa satu koper berukuran kecil setiap kita bepergian, tapi pada waktunya pulang kopermu bertambah.”

“Itu kan agar praktis. Jadi, aku membeli pakaian di sana saja. Sedikit diluar perkiraan memang” seraya tersenyum bersalah. “Tapi… di koperku juga terdapat oleh-oleh untuk banyak orang.” Memelankan suaraku. “Isinya tidak semua barang-barangku.”

Kau tahu… tidak aneh acara yang hanya dihadiri selama 1-2 jam, tapi dandannya lebih lama dari itu. Belum lagi lemari dan meja rias yang berantakan serta ranjang yang dipenuhi berbagai macam pakaian yang sudah dicobanya sembari berdiri di depan cermin. Bukankah begitu, girls? Ayolah… kami, wanita diakui atau tidak, disadari atau tidak memang seperti itu. Senang tampil cantik dan berusaha tampil cantik di hadapan orang yang akan ditemuinya. Ya, setidaknya tampil pantas.

Mencari sepatu yang cocok dengan dress pendek musim panasku memang tidak sulit di sini. Di sepanjang jalan ini berjajar toko dan butik busana wanita. Setelah window-shopping di tiga butik di belakangku sana, aku mendapat sepasang sepatu wedges bertali lebar yang dari kejauhan tampak berwarna kuning tua. Sepatu berhak 10 cm berbahan kulit yang memiliki design sederhana ini nyaman digunakan berjalan. Tali sepatunya menyilang dan melingkar di pergelangan kakiku, sedangkan potongan yang lebih lebar menutupi jari jemari kakiku. Yang terlihat dari depan hanya keempat jemari kakiku. Mengingat keterbatasan bahasa, membeli satu barang yang seharusnya dan biasanya tidak memakan banyak waktu menjadi lebih dari 30 menit.

Sebenarnya, ada beberapa barang yang ingin kubeli di butik bernama Angel’s Wings ini, tapi kau tahu kan tidak banyak mata uang Korea di dompet kecil berseletingku ini. Berbeda dengan jumlah mata uang Yen yang ternyata ada tujuh lembar dengan nilai yang cukup besar. Menyadari kartu kreditku tidak bisa dipakai ketika tidak melihat logo Visa ataupun MasterCard di pintu masuk, aku harus membatasi pengeluaranku. Ya, saat ini aku berada di Korea. Apa kau bisa menduganya? Aaa… seperti dugaanku. Terdapat beberapa orang yang sedikit terkejut ketika membaca Korea. Got you! Hei… apa kau baru saja tersenyum ketahuan?

  Kubersihkan telapak kakiku menggunakan tisu basah yang kuminta dari salah satu pegawai di sana. Tapi, karena aku menggunakan lebih dari dua helai tisu, sekalian kubeli saja semuanya. Perempuan berusia sekitar 20 tahunan ini bukan memandangiku, melainkan dua tatoku yang berada di kedua lenganku. Dari tulang selangka melingkar melewati lengan sampai punggungku yang terdapat tato bergambar dedaunan dipermanis dengan bunga-bunga kecil berwarna merah. Bentuknya bisa dibilang feminine; menjuntai indahnya. Satunya lagi adalah tato yang berjalan di bawah lenganku bertuliskan; love, ice cream and ring berukuran sedang. Bagian bawah huruf G-nya adalah cincin merah jambu yang termasuk ke dalam kategori berlian paling langka di dunia. Tebak berapa harganya. Siapkan belasan juta dolar harus jika ingin membelinya di pelelangan.

Hurufnya memang sengaja dibuat seperti tulisan tangan atau lebih mirip coretan-coretan dinding yang sering kita jumpai di setiap sudut kota. Cukup untuk membuat orang-orang di sekelilingku bukan hanya menoleh, melainkan menatap kagum, tidak suka, bahkan menggelengkan kepalanya. Terlebih, Fred juga tidak suka tatoku yang satu ini. Katanya, tatonya terlalu besar dan terlalu bold untuk seorang wanita sepertiku. Komentarnya pedas sekali jika mengenai hal ini.

“Dengan tato itu, kau terlihat seperti bartender atau DJ di sebuah nightclub murahan yang terdapat di gang-gang kecil. And what is that? I get it about the love. Humph…. but I have no idea with the rest. Ice cream and ring?”

Aku hanya cemberut mendengarnya berkata seperti itu. Musim panas mengingatkanku pada ice cream, sedangkan ring; aku sedang memutar-mutarnya sewaktu T bertanya apa kata selanjutnya. Aku selalu teringat padanya setiap kali melihatnya. Ini adalah pemberian terakhir dari seorang pria bernama Hans Joseph Eshkert. Siapa dia? Akan aku ceritakan nanti.

“Untung saja tidak permanen.” Hah… tidak permanen? Bagaimana mungkin tato tidak permanen? Aku jamin pasti banyak yang menanyakannya.

Jadi begini, aku mengenal seorang teman yang ahli dalam bidang body painting dan teknik pewarnaan. Kemampuannya sampai terdengar ke studio Universal yang luas bak komplek perumahan itu. Tidak berapa lama kemudian, Tony atau yang akrab kupanggil T sudah berada di dalam ruang rias. Dia adalah salah satu staf special effect dalam produksi film tersebut.

Tangannya yang dilapisi sarung tangan ketat sedang membuat tato untuk melengkapi karakter yang diinginkan sutradara. Aktor tersebut berperan sebagai prajurit khusus sewaktu masa perang dunia kedua yang biasanya ditandai dengan nomor seri rahasia yang ditato di salah satu bagian tubuhnya. Aku tidak akan menyebutkan nama aktor itu mengingat filmnya belum tayang di bioskop. Bahkan syutingnya saja belum selesai. Dituduh sebagai penyebar berita yang membocorkan informasi yang seharusnya dirahasiakan kan tidak menyenangkan.

Apa kau pikir tato yang sedang dikerjakannya itu tato asli yang permanen begitu? Tentu saja tidak. Tato yang selamanya berada di tubuhmu tidak akan sembarangan dibuat begitu saja. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang menginginkan kehadiran seorang bayi mungil nan lucu di tengah-tengah kehidupannya. Untuk itulah, keahlian T dibutuhkan karena pewarnaan merupakan kunci utama agar tato tersebut kelihatan begitu nyata. Maksudku, membuat tatonya semirip aslinya.

Menurutnya, akan lebih baik lagi jika para penonton berpikir dan menganggap bahwa itu adalah tato asli. Namun, sewaktu melihat foto aktor tersebut terpajang di halaman majalah-majalah atau artikel di internet, mereka menyadari bahwa tatonya sudah tidak ada.

‘Oh… ternyata itu bukan asli.’ Lalu, dia mendengar. ‘Tatonya tampak begitu nyata.’
Nah… itu adalah sebuah kepercayaan diri baginya. Tanda bahwa hasil kerja kerasnya selama berjam-jam di ruang rias diakui. Produsernya bilang bahwa pengerjaan tato palsunya itu sangat detil. Sempurna. Dia bahkan sampai meminta untuk dibuatkan satu tato berukuran kecil yang bergambar wajah anak lelakinya yang berusia empat tahun di tengkuknya. Melihat hasilnya, dia bilang bahwa tato goresan tangannya lebih dari memuaskan. Ekpresi wajah dan garis senyumnya lebih baik dari foto yang dia tunjukkan. 


 
Aku mengenalnya tanpa sengaja sebenarnya. Sekitar dua tahun lalu, aku pernah menyiramnya dengan seember air di pojok; dekat tempat sampah besar di gang apartemen kumuhku. Kau tahu… apa yang sedang dia lakukan di tengah malam yang dingin pada waktu itu? Dia teler. Mabuk berat sampai bicaranya saja tidak jelas. Aku yang lelah sepulang bekerja seharian ingin sekali beristirahat dengan nyaman di balik selimutku yang berbahan wol. Itu wajar, kan? Namun, dia dengan nyanyiannya yang tidak karuan sungguh mengganggu tidurku. Padahal empat jam lagi aku harus bangun untuk mengantarkan susu tanpa merek yang diproduksi oleh sebuah peternakan kecil yang tidak jauh dari pusat kota tempatku tinggal. Para tetangga di area sekitar membuat keributan semakin menjadi.

Jujur, malam itu aku amat kesal. Tanpa ragu aku mengambil ember yang terisi oleh air hujan di kamar mandi. Kemarin hujan deras dan seperti biasa atapku bocor. Aku turun tanpa peduli rambut yang berantakan dan penutup mata yang kugeser bak sebuah bando. Menyorot tangga besi yang di beberapa bagiannya berkarat menggunakan senter. Kutemukan dia sedang bernyanyi bak seorang rock star sembari mengisap ganjanya. Terduduk bak tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Membicarakan hal-hal yang aku tidak mengerti. Di genggaman tangannya masih ada enam linting ganja yang aku rasa akan dihabiskannya malam ini juga.

“Pathetic.” Lalu… byuuurrr… Air dingin itu seketika membuatnya tersadar. Suaranya yang berteriak kedinginan membuat mereka mengerluarkan kepalanya dari jendela untuk melihat apa yang terjadi. Ada yang berseru dan ada pula yang mengejekku.

Sekilas kulihat mereka satu persatu seraya berkata, “Apa yang kau lihat?” Mau tidak mau, aku harus bisa melindungi diriku sendiri jika ingin tinggal dalam waktu yang cukup lama di lingkungan ‘keras’ dan tempat ‘beresiko’ seperti ini.

Aku menyorotnya menggunakan senter. “Apa kau akan menghabiskan hidupmu menjadi orang yang menyedihkan seperti ini? Ck… berkeliaran di jalanan sembari mengisap barang tidak berguna itu layaknya seorang gelandangan.”

Kurebut rokok berisi ganja itu dari genggaman tangannya. Dia bahkan tidak bisa mengambilnya kembali. Kurasa tubuhnya terlalu lemas untuk digerakkan. Dengan cepat aku melemparnya ke belakang, lalu menginjaknya sampai hancur.

“Hei… Kau!” Dia memungutnya seraya mencium aromanya. Tersenyum akan aroma yang memabukkan. Memukul kakiku yang pukulannya bak anak TK. Aku menghindari pukulannya dengan mundur satu langkah.

Dia meluruskan lengannya dan menengadahkan telapak tangannya padaku. “Uang. Kau harus menggantinya.” Sungguh tatapan seorang pecandu.

“Jika kau hidup begini terus, kurasa kau cocok berada di sini. Lihat dirimu. Mengisap sampah di samping tempat sampah. Dengar… berhentilah berulah, maka kau tidak akan mendapat perlakuan memalukan seperti yang sekarang kau dapatkan ini.”

Meraih tangannya dan membantunya berdiri. Jelas dia kesulitan untuk berdiri. Dia kelihatan mengantuk. Mengusap hidungnya seraya mendorongku. Bergumam. “Kau beruntung, aku yang datang. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padamu jika salah satu di antara mereka yang kemari. Kau habis! Kau tahu itu?”

Mendekatinya. “Bangun!” Meraih gagang emberku. Tidak lama kemudian, nada suaraku kembali normal. “Pulanglah…” Dia menepis tanganku.

Untuk mencoba berdiri saja beberapa kali dia terjatuh. Oh… wajahnya keras sekali menghantam tanah. Berdiri dengan bertumpu pada sisi tempat sampah. Kulihat dia yang berjalan keluar gang sempoyongan. Menoleh padaku dan menyumpahiku. Sempat kulihat bibirnya yang menggigil.

“Watch your step.” Baru saja aku bicara, ucapanku sudah terbukti. Suara gaduh terdengar dari tempatnya berada.   

Rupanya itu adalah pukulan keras baginya. Tidak ada seorangpun. Sekalipun yang memperlakukannya atau mengucapkan kata-kata seperti yang kulakukan waktu itu. Tanpa sadar, perlakuan dan ucapanku membuatnya kembali membuka halaman brosur-brosur pusat rehabilitasi yang berserakan di karpet kamarnya. Dia yang hidup terpisah dari orangtuanya sejak kuliah ini akhirnya berani mendaftar dan mengambil enam bulan program rehab. Singkatnya, dia sembuh dari kecanduannya! Memulai hidupnya kembali. Memulai karirnya. Hal pertama di to-do list-nya adalah pergi ke tempat di mana aku menyiramnya dan mencari tahu tempat tinggalku. Dia merasa harus menemuiku langsung untuk berterima kasih secara pantas. Katanya, setidaknya dia harus membelikanku makan malam, memberikan hadiah, melakukan sesuatu atau apapun itu. Namun, dia terlambat.

Waktu itu, beberapa hari yang lalu sebelum dia ke sana aku sudah pindah ke tempat yang tentu saja lebih nyaman. Tidak ada yang tahu ke mana aku pindah karena aku memang sengaja tidak meninggalkan alamat maupun nomor telepon baruku. Lagipula, siapa yang mau meninggalkan sesuatu atau istilahnya ‘jejak’ di tempat begitu. Aku tidak mau berkaitan dengan tempat itu. Aku juga tidak mau ada seseorang yang mencariku. Terlebih, aku tidak mengenal baik satu orangpun yang tinggal di lingkunganku.

Beruntung… aku mendapat Ibu pemilik apartemen yang baik. Keluarganya juga tidak seperti kebanyakan keluarga di sini yang saling berteriak satu sama lain atau membanting barang-barang ke pintu. Oh… ya, dia sendiri yang menyarankannya. Untuk itulah aku semakin yakin untuk tidak meninggalkan apapun. Katanya, dia sudah bosan berurusan dengan polisi. Kuberitahu ya, jika kau ingin membuat sebuah penelitian atau semacam artikel di surat kabar mengenai sejarah wilayah ini; carilah wanita tua bernama Odelia di sekitar sini. Dialah orang yang tepat untuk dijadikan sumber. Dia tahu seluk-beluk area ini lebih baik dari seorang sejarawan sekalipun.

Kau pikir di kota London yang termasuk ke dalam salah satu kota berbiaya hidup tertinggi ini tidak ada wilayah atau tempat seperti yang kuceritakan? Lagi, aku tidak menyebutkan nama areanya karena aku tidak mau menyinggung orang-orang yang tinggal dan besar di sana. Ada orang-orang baik di antara mereka. Setidaknya, ini yang dapat kulakukan untuk mereka. Ngomong-ngomong, T juga mencari di tempatku bekerja. Mengingat aku bekerja paruh waktu, maka dalam satu hari aku bisa mengerjakan 2-3 pekerjaan yang berbeda. Dia mendatanginya satu persatu, namun mereka juga tidak tahu ke mana aku pergi.

Aku merasakan waktu berlalu dengan cepatnya sewaktu aku merasakan udara sepoi-sepoi di sebuah restoran outdoor di L.A. Tiba-tiba… seorang pria berjas hitam, bercelana jeans lusuh dan beranting ini menghampiriku dengan semangatnya. Memegang tanganku bak seorang penggemar yang tanpa sengaja bertemu idolanya di tempat yang tidak terduga seperti ini. Merapikan rambutnya yang jelas terlihat tidak terawat dengan potongan yang tidak jelas pula. Tato berupa tiga baris kalimat berhuruf Rusia tampak di bawah kaos V-neck polosnya ketika dia mendekatiku.

Dengan cepatnya dia bicara. “Aku yakin, benar ini kau. Aku mencarimu ke mana-mana. Ya Tuhan, aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Akhirnya, kita bertemu juga.” Memelukku erat. “Ya ampun… kau tahu betapa senangnya aku bisa bertemu denganmu di sini.”

“Tunggu… kurasa kau salah orang. Aku tidak mengenalmu.” Melepaskan pelukannya seraya membuka kacamata kotak yang bingkainya berwarna biru muda.  

“Lihat aku baik-baik.” Sejenak kuperhatikan wajahnya, namun sedikitpun aku tidak mengenalinya. “Kau pernah menyiramku di gang dekat rumahmu. Tengah malam.” Aku mencoba mengingatnya. “Mengisap ganja. Kau menyiramku yang sedang tidak waras dengan seember air.”

Terkejut. “Haa…” Membuka mulutku. “Ya, aku ingat. Waktu itu, nyanyianmu sungguh membuat telingaku gatal. Aku berhutang permintaan maaf padamu, ya? Apa untuk itu kau menghampiriku dan memelukku? Tapi, kau tidak terlihat begitu. Kau tampak gembira ketika mengenaliku.”

Dari situlah… perbincangan berlanjut dan dengan santainya sembari ditemani minuman dingin dan sepiring buah-buahan segar dan cheesecake yang lembut. Dapat kurasakan es teh campur buah-buahan seperti nanas dan mangga yang segar di sedotan pertama. Saat itulah, pertemanan kami dimulai. Bukan berarti bertemu dengannya yang berprofesi sebagai tattoo artist, lalu tiba-tiba aku menyukai tato. Tidak. Aku memang tertarik untuk menato tubuhku, namun aku tidak siap untuk berkomitmen bahwa tato akan selamanya berada di tubuhku. Jadi, yang sering kulakukan untuk menyalurkan ketertarikanku adalah sebatas tato henna yang bertahan selama ± dua minggu saja. Aku senang sekali melihat telapak maupun punggung tanganku yang dipenuhi oleh motif ciri khas India sewaktu tatonya baru saja selesai dengan tinta yang masih basah. 

Mendengar itu, dia mengajakku ke studionya. Dia bersedia membuatkanku tato seperti yang ada di film-film itu. Bukan hanya bersedia, melainkan menawarkannya. Merekomendasikan berbagai design ‘tato aman.’ Itu adalah istilahnya untuk pemula atau orang yang baru pertama kali ditato. Tato aman biasanya berukuran kecil sehingga mengurangi nilai kemungkinan akan disesali nantinya. Biasanya ukurannya tidak lebih dari 5 cm dan memiliki nilai sentimentil bagi orang tersebut. Design-nya pun bisa dibilang aman, misalnya peri, nama seseorang yang kau sayangi, tulisan-tulisan bermakna yang menyangkut keluarga atau berupa simbol-simbol.

Kuperhatikan bawah punggungku di cermin. Aku mengambil resiko dengan ukuran tato yang cukup besar dan design yang tidak bisa disebut sebagai tato aman. Gambar awan dan bintang di malam hari tampak seperti pemandangan langit yang sesungguhnya. Belum lagi, warna bulannya yang kekuningan. Mengintip di balik awan berarak itu.

Dia menatap tajam saat melihatku mengeluarkan dompet dari tas Mulberry-ku. “Apa itu dompet? Apa kau mau membayarku? Kau pikir aku mau menerima uangmu?” Bicaranya cepat sekali.

Terkejut akan ucapannya, aku terdiam sejenak. Meletakkan alat-alatnya kembali. “Sebaiknya kau jangan datang kemari lagi, jika kau ingin membayarku.” Mendengus. “Ck…”

Aku merespon dengan berujar, “Apa? Aku kan hanya… …  Oh… apa kau tersinggung? Sungguh… aku tidak bermaksud. Ini kan memang sudah seharusnya.”

“Dengar… kau ini bukan sekedar klien bagiku. Itu sebabnya, aku membawamu ke studio pribadiku. Dan aku tidak akan meminta bayaran darimu. Sedikitpun tidak.” Menaruh sarung tangannya. “I’m sober. Aku memutuskan untuk di rehabilitasi karena ucapanmu yang begitu menyebalkan.”

Aku tersenyum sementara jarinya menghitung. “Kau menyebutku  gelandangan. Hidupku menyedihkan. Belum lagi, disiram air,” lanjutnya. Benar, aku melakukannya. Aku jadi ingat apa saja yang kuucapkan waktu itu.

“Anggap saja, ini adalah caraku berterima kasih karena telah membantuku menemukan jalan dan mengembalikan hidupku kembali. Lagipula, kau juga tidak mau menerima apa-apa dariku ketika kukatakan ingin melakukan sesuatu untukmu sebagai tanda terima kasih di restoran tadi.”

Sedikit terharu mendengar ucapannya. “Aku hanya ingin tidur. Hari itu sangat melelahkan.” Dia melipat kedua tangannya sembari menatapku tajam.

“Baiklah.” Kumasukkan dompetku kembali. “Sempat terpikir kau akan menyerangku sewaktu aku membuang ganja yang kau pegang. That was pretty intense, anyway.”

“Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk berjalan lurus ke arahmu. Dengar… kau bisa datang kapanpun kau mau. Bawa gambar dan design yang kau suka dan aku akan membuatkannya untukmu.” Memegang kedua tanganku. “Hubungi aku jika kau berada di L.A. Aku selalu meluangkan waktu untukmu.”

T yang pindah ke sini setengah tahun lalu dan memiliki studio tato yang ruangannya cukup banyak ini menolak dibayar. Dia menegaskan. “Awas saja… jika kau mengeluarkan dompetmu lagi di sini.”

Tidak lama kemudian, seorang pria keturunan Amerika Latin masuk tanpa mengetuk pintu. Gaya rambutnya yang klimis, gesture kemayu dan kemejanya yang rapi adalah hal pertama yang mataku perhatikan. Hm… aku tahu gaya berbusana semacam ini. Dia melihatku dengan senyum lebarnya. Mencium kedua tanganku.

“Akhirnya, dia menemukanmu. Jadi, wanita tanpa nama yang sering dibicarakannya itu adalah kau rupanya.” Suaranya pelan, namun cukup terdengar oleh kami bertiga.

“Dia meneleponku dengan suara terisak.” Aku menoleh pada T yang wajahnya memerah. Sedikit kesal karena membocorkan rahasianya.

“Sudahlah, dia secara resmi menjadi bagian dari keluarga kita. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi.”

Tanpa bertanya pun aku sudah tahu bahwa mereka memiliki hubungan. Surprisingly, Bernardo tanpa ragu langsung memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya. Gaya busana seperti yang dia kenakan memang menunjukkan jati dirinya yang suka sesama jenis alias gay. Pria bersepatu lancip ini seorang fashion consultant di sebuah department store ternama yang menjual berbagai macam busana high end.

Oh… ya, setelah itu, kau tahu apa yang kami lakukan? Yeah… shopping! Menghabiskan waktu bertiga bersama kedua orang ini sangat menyenangkan. Bernardo dengan senangnya memadu-padankan dress dan sepatu yang bahkan belum kucoba. Aku, orang setengah Asia berkewarganegaraan Inggris yang memiliki tinggi badan 162 cm dan memiliki Ibu berkulit putih layaknya orang Barat; tentu aku harus lebih teliti mengenai busana yang akan kubeli. Aturan ‘mainku’ hanya satu; semua busana yang kukenakan harus sesuai dengan postur tubuhku. Standar, bukan? Cutting-nya yang pas di badan dan nyaman merupakan my absolute code ethic. Jika tidak sesuai aku tidak akan memasukkannya ke dalam kantung belanjaanku, meski aku sangat menyukainya.    



Dengan percaya dirinya aku melangkah keluar seraya memakai kacamata hitamku. Sesekali melirik pada sepatu baruku. Berjalan sembari bersenandung. Ngomong-ngomong, ini jalan apa, ya? Pikiranku teralihkan oleh jajanan di pinggir jalan. Humph… uang Korea-ku lebih banyak koin. Entah apa ini cukup untuk membelinya mengingat aku ingin mencoba semuanya. Terutama, spicy rice cakes yang berwarna merah mengilap itu. Penjualnya sedang mengaduknya, sementara para pembeli sedang menikmati hidangannya. Lewati saja, lagipula aku tidak cukup lapar untuk bergabung makan bersama mereka. Baiklah… kuputuskan untuk naik bis saja ke tempat tujuan yang aku sendiri belum tahu. Tapi, bukankah ke mana aku pergi itu tidak penting? Menurutku, keberanian untuk memutuskan naik adalah hal yang terpenting.

Biasanya, aku memilih suatu tempat atau kota tujuanku langsung di tempat; misalnya di terminal kereta atau pemberhentian bis seperti sekarang ini. Untung saja… aku memiliki ‘kartu ajaib’ ini. Bukankah menarik, barang yang menurut penduduk suatu dearah, kota, Negara merupakan barang yang biasa saja, namun bagi kami; turis barang ini bernilai lebih dari sejumlah uang. Memang bukan terdaftar atas namaku, tapi dia bilang aku bebas menggunakannya semauku.

Kata pria berdasi hijau itu, “Gunakanlah saat Anda naik kereta maupun bis. Kuharap ini bisa membantu perjalanan Anda.”

Mereka datang untuk menyambut sekaligus mengajak kami tour di sekitar kota. Karena kami menolak, dia berpikir bahwa kartunya akan sangat membantu saat kami bepergian. Sepertinya dia tahu kami tidak suka travelling formal seperti itu. Rupanya dia menyelidiki kebiasaan kami juga.

Salah satu dari tiga orang yang menjemput kami di airport meminjamkannya. Fred tidak tertarik sama sekali, maka dia menyerahkannya padaku. “Tidak usah khawatir tentang mengembalikannya. Nyonya bisa menggunakannya seakan milik Nyonya sendiri. Silakan ambil.”  

Karena tempat yang ingin kudatangi berada di luar kota, aku sedikit ragu memutuskannya. “Dia pasti kesal jika aku tidak hadir dalam meeting.”

Kuintip isi dompetku. “Sepertinya ini cukup.” Sudahlah… aku jalan kaki saja. Hitung-hitung menjelajahi kota. Eh, apa ini masih di Seoul? Hm… biarlah… lebih baik tidak tahu. Dengan senyum tipis aku berjalan ke arah traffic light.

Menyebrangi jalan tanpa berpikir dua kali. Membaur dengan orang-orang yang jasnya dilepas dan dasinya yang dilonggarkan. Kebanyakan dari mereka memegang minuman bersoda dan minuman dingin lainnya. Melewati pohon-pohon yang sengaja ditanam berdekatan agar mengurangi udara panas di jalan. Terlebih, satu bulan ini sudah memasuki musim panas.

Tentu, di antara mereka terdapat beberapa pria yang bukan sekedar pegawai kantoran. Pantas… aku merasa ada yang mengikutiku. “Ough… menyebalkan!” Menoleh untuk memastikannya.

Benar saja, ketiga pria berpakaian layaknya di pantai itu menghindar dan bertingkah seperti turis saat kuhampiri. Pertama-tama, aku memercepat langkahku. Menghindari pandangan mereka dengan berdiri di depan seseorang sebelum kembali berjalan cepat. Kemudian, secepat kilat aku berlari. Sekali lagi aku menoleh, benar mereka mengejarku. Membuka penyamarannya.

Beberapa orang yang duduk berteduh di kursi memandangiku keheranan. Bahkan pasangan kekasih yang tadinya sedang berpegangan tangan dan saling memandang penuh cinta pun beralih memandangku kesal. Ya, aku tahu itu. Aku terima pandangan mereka. Aku memang sudah menghancurkan ‘waktu berkualitas’ mereka. Aku balas dengan meminta maaf menggunakan bahasa setempat dengan tidak melambatkan langkahku sambil berulang kali mengucapkannya. Sekilas, kulihat langit yang cerah. Langit biru yang dihiasi awan putih yang rasanya ingin kusentuh.

“Ya Tuhan… kenapa dia tidak bisa membiarkanku sebentar saja? Ini bahkan belum satu jam. Dia mengutus mereka untuk ‘menangkapku.’ Ck… meeting kan nanti malam.” Nada suara mengeluh sembari terus berlari mengecoh mereka.

Masuk ke dalam gang yang ada di samping restoran sup. Rumah berpagar kayu setinggi dada bercat coklat tua yang kulewati terbuka. Kembali dan masuk tanpa izin ke property orang lain yang membuatku diusir menggunakan sapu lidi panjang. Aku kira tidak ada orang di rumah, rupanya Nenek itu sedang memerbaiki sapu lidinya. Sepertinya dia kaget, sehingga reflek memukulku. Membungkuk 90o sambil berkata maaf, kemudian kembali mengecoh mereka yang ternyata ada di belakangku. Wah… cepat juga mereka. Oh… tentu saja, suara berisik itu secara tidak langsung memberitahu di mana aku berada.

“Kalian lumayan.” Menoleh seraya tertawa kecil. Seruan semangat melihat wajah mereka yang mulai berkeringat. “Tapi, kalian masih kalah cepat denganku. Lihatlah sepatuku! Cobalah berlari mengenakan ini.”

Whoa… aku sulit mengendalikan kakiku ketika menemui belokan begini. Terlebih, terdapat beberapa orang yang sedang main kartu di sana. Ditemani potongan kecil semangka serta kipas angin yang memutar. Untung saja… aku tidak menabrak mereka. Berbeda dengan ketiga pria itu yang dua dari mereka terpeleset untuk menghindari tubrukan. Kulirik dua pria yang berusaha berdiri dengan telinga yang panas akibat omelan warga setempat. Kemudian, datang pria yang berada paling belakang sekaligus yang terakhir.

“Bruggg…” Dia menabrak kedua temannya itu. Mereka berguling di samping deretan kursi-kursi plastik berwarna hijau tua. Pria bercelana hitam garis biru tersebut tampaknya marah pada kedua rekannya. Suaranya sampai terdengar ke sini.

 Itulah sebabnya, aku melambatkan lariku. Berjalan dengan santainya sembari mengusap keningku. “Beres.”

Namun, semenit kemudian suara langkah kaki mereka terdengar dekat. “Ayolah… setidaknya kalian makan terlebih dahulu semangka itu. Baru setelah itu mengejarku kembali. I’ll be around here.” Mendengar ucapanku, mereka justru berhenti. “Apa mereka mengerti ucapanku.”

Memerhatikan aba-aba dari pria bercelana hitam garis biru itu. Lalu, berpencar. Apa? Memerhatikan mereka yang berlari ke berbagai arah di gang yang tidak luas ini. Bergumam melihat ke arah mereka pergi. “This is not good. I’ll better get going.” Dengan kikuknya aku kembali mencari jalan di gang ini.  

Tidak kapok, aku bersembunyi di salah satu rumah warga. Berdasarkan kejadian yang pertama, seharusnya aku mengecek keadaan rumahnya terlebih dahulu. Tapi, mana sempat aku mengecek apa ada orang atau tidak di saat-saat begini. Perlahan aku jalan membungkuk di balik tanaman yang tumbuh tidak terlalu tinggi. Menekuk kakiku agar tidak terlihat dari balik tanaman tersebut. Mengendap bak remaja 16 tahun yang sembunyi-sembunyi pergi ke klab malam. Anak yang sedang bermain tanah terdiam sejenak memerhatikanku. Mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Kalimatnya cukup panjang untuk penguasaan bahasa Korea-ku yang minim.

Dari gesture-nya sepertinya dia mengajakku bermain. Anak perempuan berusia sekitar 6-7 tahun ini kelihatannya tidak takut pada orang asing sepertiku. Dia bahkan tidak terkejut ketika melihatku mengendap-endap. Sisi sepatu putihnya penuh dengan lumpur. Pipinya yang bulat dan memerah bak menggunakan blush on. Baiklah… aku ikut saja apa yang sedang dilakukannya. Rupanya dia senang ditemani bermain. Setelah keadaan aman, maksudku tidak terdengar suara dan langkah kaki mereka; aku putuskan untuk segera keluar dari sini.

“Baiklah… aku harus pergi. Terima kasih sudah menolongku, adik kecil.” Mengelus kepalanya. “Dan lebih baik jangan katakan apapun pada orangtuamu.” Menaruh jari telunjuk di depan bibirku. “Sst… kau mengerti maksudku, kan?”

Dia menganguk. “Oh… yakso?” Dia menunjukkan jari kelingkingnya. Maaf jika penulisannya salah, aku hanya menulis apa yang kudengar. Saling melingkarkan kelingking masing-masing.

Sedikit membungkuk seraya mengucapkan terima kasih. “Kamsahamnida.”
Dia berdiri. Membalas dengan membungkuk lebih rendah dengan kedua tangan di pusarnya dan terdengar kata, “Anyong.” Melambaikan tangan, ditambah senyum di wajah polosnya.

Kubalas lambaian tangannya di gerbang rumahnya. Aku meregangkan tubuhku sesaat setelah keluar dari gang yang tembus entah di jalan apa. Tentu saja, aku kan sama sekali tidak bisa membaca huruf Korea. Sewaktu di Jepang pun begitu. Tidak bisa membaca huruf kanji karena aku terlalu fokus pada goresan hurufnya yang rumit daripada mengingat arti hurufnya. Hanya kata-kata dengan goresan kanji sederhana saja yang dapat kubaca. Kau tahu… menulis huruf kanji itu ada urutannya. Jika kau tidak mengikutinya dengan benar, huruf kanji-mu akan terlihat aneh. Goresan yang saling tumpang tindih tidak beraturan justru akan diartikan berbeda dari arti yang sebenarnya.

Kurapikan pakaianku. Menyadari kacamata yang terjatuh saat berlari tadi, aku beralih merapikan poniku agar sedikit menutupi mataku. Bersiap-siap untuk menghalangi pandangan orang setelah keluar dari gang.

Tiba-tiba aku mendengar, “Mencari ini.” Itu jelas suara Fred. Dia berjalan mendekatiku dan as expected tangannya memegang kacamataku.

Di langkah keduaku ini aku harus kembali berlarian di jalanan kembali. “Baiklah… siapa takut.” Kubuat menyenangkan dengan diselingi seruan-seruan yang saling kami lontarkan, meski bicaranya harus sedikit keras.

Tentu, dia memotretku. Dia menjadikan ini bak permainan fotografinya. ”Moira, lihat ke belakang. Bagus. Ya, seperti itu.”

Tanpa sadar, aku mengikuti ucapannya. “Rambutmu, rapikan sedikit.” Kemudian, “Nah… begitu. Cantik. Cantik sekali,” lanjutnya.

Tersadar aku bergumam, “Eh… kenapa aku mengikuti ucapannya, ya?”
“Moira… lihat sini…”
“Can you stop taking my snapshot? I’m on the run if you don’t realize.” Berlari menghindari para pejalan kaki.

“Aku tahu. Memangnya apa tujuanku kemari? Membawamu jalan-jalan tanpa membawa kamera, begitu? Itu bukan gayaku sama sekali.”

“Ya. Tentu saja tidak,” balasku lantang.
“Kupikir ini akan menjadi foto yang bagus. Dan aku benar.” Perlu diingat, kami masih dalam keadaan bergerak.

Mengatakannya sedikit kesal. “Yeah… right.” Berjalan cepat di antara dua orang yang saling berpegangan. “Sorry” seraya melirik pada mereka.

“Penilaianmu tidak pernah meleset, kan?” Menoleh padanya. Secepat itu dia mengganti kameranya dengan kamera video. Ck… di mana dia menyimpannya?

Eh… tunggu dulu. Kerumunan apa di sana, ya? Rupanya sebuah toko sedang mengadakan obral. Ini kesempatanku. Tapi, tidak jauh dari sana terdapat kios yang menjual ‘manis-manis.’ Apa itu manisan buah? Aku suka sekali manisan buah. Terakhir kali aku memakan manisan buah sewaktu aku menghabiskan malam tahun baruku di sebuah pasar malam di Hongkong. Mereka menyebutnya tanghulu. Seingatku warna luarnya agak kemerahan. Lapisan gula yang melapisinya memberi kesan mengilap. Masih kuingat buahnya yang agak keras saat digigit, namun lembut di dalam layaknya buah-buahan segar. Cherry adalah pilihan favoritku. Di sana aku juga sempat mencoba jianbing yang bisa dibilang martabak ala China.

Sebagai pelepas dahaga, aku membeli naicha. Aku tidak tahu minuman apa ini, tapi Fred bilang rasanya lumayan. Rasanya seperti teh susu. Yang membuatku selalu ingat akan jajanan di pasar malam itu adalah chou doufo atau lebih dikenal dengan sebutan ‘tahu bau.’ Namanya saja sudah cukup mengerikan, bukan? Banyak turis yang berjajar saat kuhampiri penjualnya dari kejauhan. Lihat wajah mereka! Ekspresi aneh seperti mau muntah atau mengendus-endus terlebih dahulu, lalu menjauhkan tahu dari wajahnya membuatku semakin penasaran akan aromanya. Tertawa geli karena rasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya dan tidak pernah dibayangakannya pula ataupun wow moment dengan raut wajah yang berbeda. Turis asal Jerman itu menutup rapat hidungnya ketika potongan tahu kecil masuk ke mulutnya.

“Ya ampun…” Mulutku terbuka. Kujauhkan tahunya dari hidungku. Bertanya pada sekelilingku. “Apa kau yakin? Uuh… aromanya…” seraya tertawa kecil, kemudian meluruskan tanganku bermaksud agar jaraknya tidak terlalu dekat. Mereka jawab dengan mengangguk.

Adapula yang ikut tertawa. Mengerti maksudku? Kau pernah lihat reaksi seperti ini, kan? “Tapi… Aku bisa mencium…” lanjutku. Dengan cepat menutup hidung dan mulutku.

Ngomong-ngomong, tahu bau bisa disajikan dengan saus kacang maupun saus kecap. Digoreng ataupun direbus, menurutku baunya tidak jauh berbeda. Tapi, penjualnya bilang rasanya lebih enak jika direbus. Entah bagimana rasanya mengingat Fred kalah taruhan, jadi dia yang memakannya. Satu potong tahu bau mau tidak mau harus dihabiskannya. Peraturan yang dibuatnya sendiri, tentu harus dia patuhi, bukan? Sementara aku merekam aksinya yang ‘didukung’ dan disoraki oleh para turis mancanegara maupun lokal, dia menahan isi perutnya yang akan keluar.

Awalnya begitu, dia merem-melek. Wajahnya memerah dengan cepat. Lalu, meminum banyak air agar tahunya tertelan. Melewati tenggorokan dengan sendirinya. Setelah lidahnya beradaptasi, katanya lama kelamaan rasanya tidak begitu buruk. Baunya saja yang ‘luar biasa’ menyebar di indera penciumannya. Apa ya nama sepanjang jalan itu? Hm… jika tidak salah itu di kawasan Mongkok. Aaa… waktu itu aku berada di Ladies Market.

Maka dari itu, aku harus mencoba manisan buah versi Korea. Aku kembali pada penjual yang mengenakan pakaian hitam dengan motif bunga-bunga yang ketinggalan zaman seraya memilih ‘sate’ buahnya. Tanpa lama, kuserahkan tiga koinku. Menggigitnya dan otomatis bergumam, “Huumm…”

Ini yang kubutuhkan hari ini. Satu potong buah sedang kukunyah. Kubuka mulutku untuk buah yang kedua, tapi wajah Fred yang muncul di balik sebuah kios menghentikanku. Kubelah kerumunan sembari menarik nanas dari tusukannya menggunakan gigi depanku. Berlari merunduk. Meletakkan manisan buahnya di depan dadaku agar terlindungi.

“Why are you doing this to me? Like all the time. And it’s getting worse in the past few months, even when I’m on vacation.”    

“Ayolah… jangan terlalu mendramatisir. Besides, I don’t know this is going to be so much fun.”

Mendengus. “Liar. It’s for one or your project, right?” Berhasil keluar dari padatnya orang-orang yang rata-rata sedang berbelanja.

Dia melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong karena menabrak tiang besi sebuah kios kudapan Korea. “Harus kuakui, ya. Pengambilan gambar ini adalah salah satu dari sederet rencana yang terpikirkan sesaat setelah kau naik bis.”

“Kau ‘beraksi’ tanpa arahan siapapun, pergi ke manapun kau mau, melakukan apapun yang kau inginkan; sementara aku yang merekam setiap gerak-gerikmu,” jelasnya. “Banyak hal yang tidak terduga terjadi. Itu yang kusuka.”

Jeda sesaat, kemudian berkata, “Unscripted. Isn’t it so much fun?” Lalu, suaranya menghilang di kerumunan.

Yes, dia tidak bisa mengejarku. Kurasa… aku sudah cukup jauh dari kerumunan. Lebih baik aku kembali masuk gang. Dari sini aku dapat melihat pemberhentian bis. Masih dengan manisan buah yang tinggal lima atau empat potong lagi, tiba-tiba dia berdiri tidak jauh dariku. Rupanya dia bukan tidak bisa mengejarku; melainkan memotong jalan atau mencari jalan pintas. Ah… aku lupa, dia memang pintar dalam hal ini. Maksudku, dia pasti bisa menemukan pola pintu keluar meski berada di sebuah labirin pun. Lihat… dia sedang merekamku dari trotoar dekat lampu lalu lintas.

Bergumam, “Kau ingin aksi, aku berikan kau aksi.” Tanpa ragu aku menyebrang di lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau.

Melihatku yang menoleh seraya tersenyum tipis membuatnya segera bergegas. Bukan untuk mencegahku atau menyelamatkanku, melainkan tidak ingin ketinggalan aksinya. Khawatir padaku, tidak. Takut terjadi hal buruk padaku juga tidak. Dan senang, sepertinya ya. Dia kelihatan bersemangat.

“This is what I’m talking about,” serunya. Kameranya mengikuti ke manapun kakiku melangkah.

Dia bilang ketegangan menyenangkan seperti ini yang membuatnya ketagihan. Tidak heran bukan dia menyukai berbagai jenis extreme sports? Inilah alasan kenapa dia selalu ‘mengejarku.’ Dia pasti mendapatkan moment; beberapa detik ketika aku melompat di sampingnya yang tidak jauh darinya. Baguslah… ini akan menjadi scene yang bagus jika dibuat slow motion mengingat dress-ku ikut melayang bersama tubuhku.

Manisan buah yang lapisan gulanya sedikit meleleh karena kepanasan. Kaki yang terangkat dengan sepatu hak tinggi yang terlihat bersama wajahku yang lebih gelap menutupi sinar matahari dipotretnya. Langit yang cerah dan awan yang besar menjadikan hasil fotonya nanti menjadi jauh lebih indah. Dia sudah mahir dalam mengganti kamera yang dikalungkannya. Barusan, dia sedang merekamku dan sekarang terdengar suara jepretan foto. Aku sendiri bahkan tidak sempat melihat ketika dia mengganti dua kameranya. Pergerakan tangan yang cepat, bukan?  

Kau pasti berpikir bahwa kakak macam apa yang membiarkan adiknya sendiri berada dalam bahaya. Ya, itulah Fred. Dia melindungiku dengan caranya yang nanti kau akan tahu. Dia tahu benar kemampuanku. Hal apa yang dapat dan mampu kulakukan. Lagipula, aku juga tidak bodoh dengan membiarkan diriku terluka atau berada dalam situasi berbahaya. Bisa dibilang aku sudah memerhitungkannya. Terjadi kebisingan karena aku bak seorang polisi yang sedang mengejar pelaku kejahatan di jalanan. Tanpa menoleh kanan kiri atau berhati-hati terhadap mobil-mobil yang melaju di sekitarnya, dia tetap ‘membuntutiku’ seakan tidak menyadari resikonya.

Mereka membunyikan klaksonnya. Mengerluarkan kepalanya dari jendela mobil dan berteriak. Dalam situasi begini, sepertinya pria itu berteriak, “Apa kau ingin mati?”

Seorang pria bermobil Hyundai jenis terbaru itu menggerakkan tangannya seakan berkata, “Minggir!” Jika ada yang melaporkan kejadian ini atau ada polisi yang sedang patroli di sekitar jalan ini, maka aku dalam masalah. Beruntung, tidak ada kamera CCTV yang dapat merekam semua aksi spontan yang kami lakukan.

Pria lainnya berkata, “Apa kau sudah gila?” Kurasa itu arti dari intonasi teriakannya barusan.

Yang kulakukan ini jelas melanggar hukum. Aku tahu itu, tapi aku tetap saja tidak mundur. Sebut aku wanita badung, aku tidak akan menyangkalnya. Kulirik Fred masih berada di sampingku. Beberapa langkah di belakangku dan tidak melepaskan kamera video dari tangannya. Dia justru harus jauh lebih berhati-hati mengingat dia terus merekamku di tengah jalan raya begini. Tidak memerhatikan langkahnya dengan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Bagaimana jika dia tertabrak?

Bukankah itu yang ada di pikiran kalian semua? Tapi, tidak. Dia akan melewatinya dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Atau bagaimana jika akibat ulah kami terjadi kecelakaan beruntun? Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku katakan sebelumnya bahwa semuanya sudah kuperhitungkan. Aneh dan tidak dapat dimengerti memang, tapi beginilah. Aku sendiri tidak tahu harus mulai menjelaskannya dari mana.


Orang-orang membuat kerumunan seolah kami ini sebuah tontonan menarik. Mungkin, mereka pikir kami sudah tidak waras. “Ciiittt….” Suara ban yang berdecit justru membuatnya mengubah sudut pengambilan gambar. 


No comments:

Post a Comment