Pages

Tuesday, 10 April 2012

Kelima



Chapter 1



Kukalungkan kamera barbie star-ku, kemudian mengeluarkan my summer Burberry bag dari jendela mobil sedan semi-limo hitam yang kutumpangi bersama kakak lelakiku. Mengeluarkan tubuhku dari kaca jendela yang kubuka lebar. Tanpa sepengetahuannya, aku memberi aba-aba pada supir agar menurunkan kecepatan mobil. Perlahan berhenti di bahu jalan. Demi keselamatan kami semua, aku tidak bisa lompat begitu saja dari mobil yang berada di jalur cepat. Apalagi, situasi jalan raya cukup ramai. Siang ini kami sedang berkendara di atas jembatan yang rata-rata dilewati oleh banyak kendaraan yang melaju kencang.

“Bruk…” Tasku jatuh di jalanan. Tidak lama, kaki kananku menapak di aspal yang panas ini tanpa alas kaki. Kuku kakiku yang berhias nail polish berwarna biru metalik tampak berkilau.  

Aku bergumam. “Oh… untung saja… dia sedang sibuk.” Satu tangannya memegang telepon genggam edisi terbatasnya dan tangan lainnya menyentuh layar tablet PC-nya. Segera kukeluarkan kakiku seraya meraih tasku, tapi kakakku, Fred rupanya menyadari angin yang masuk dari jendela yang barusan kubuka.

Dia menarik lenganku. Sontak aku terkejut. “Mau pergi ke mana kau?” Berusaha melepaskan tangannya.

Lantang dia menyebut namaku. Dia kerepotan menaruh dua gadget-nya itu. Dress yang kira-kira 5 cm dari lututku dengan design one shoulder berlengan panjang yang lebar dan berwarna cerah khas musim panas yang kukenakan tidak bisa digapainya.

Bersamaan dengan itu, Koichi, asisten pribadiku yang sudah berada di luar mobil memanggilku. “Nyonya… jangan lakukan ini lagi. Jujur, apa kau tidak pernah merasa lelah, Nyonya?”

“Tap… tap…” Aku berjalan cepat menuju trotoar. Di sampingku terhampar entah sungai atau laut yang membatasi satu kota dengan kota terdekat. Memancarkan sinar matahari yang terpantul di aliran air yang tenang. Mobil-mobil melambatkan lajunya seakan melihat kecelakaan di jalan raya.

“Berapa kali kubilang jangan memanggilku seperti itu. Bukankah usiaku terlalu muda untuk dipanggil Madam?”

Kulihat bis berwarna hijau pudar baru saja lewat. Baiklah… aku ada ide. Aku melompati pembatas jalan. Berlari menuju bis. Seolah mengerti akan pandangan mataku pada bis itu, Fred dengan cepat mengeluarkan kepalanya dari jendela bak turis yang sedang melihat betapa tingginya gedung-gedung pencakar langit di pusat kota.

Melepas kacamata hitamnya. “I told you, get back here! Moira Sakura April Rosanna Eshkert, if you not get inside right now, I’ll… …”

Mendengarnya tidak membuatku melambatkan langkahku. Aku justru menghiraukan ucapannya. Bergegas mengejar bis yang jaraknya tidak jauh itu. Rambut panjang bergelombangku melayang-layang di udara. Sesekali aku menengoknya yang kesal seraya tetap memotretku. Bagaimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun juga dia selalu mendapat objek untuk kesenangan dan gairahnya dalam hidup. Ya, fotografi. Terkejut? Apa kau pernah menduga seseorang berdarah biru seperti dia memiliki ketertarikan dalam semua hal yang berhubungan dengan lensa? Para pria di dunianya berkecimpung dalam berbagai bisnis termasuk hotel dan restoran, saham atau dunia politik yang sama sekali tidak disukainya.

Dia yang banyak orang sebut sebagai fotografer yang hasil karyanya selalu mengagetkan dengan model dan pose yang tidak terpikirkan which turns out unbelievably spectacular. Tidak terduga dan terkadang menggelikan. Dia bak memiliki 100 cara untuk mendapat foto yang dia inginkan. Justru itulah yang membuat foto-fotonya dinanti dan dirindukan untuk di-post di laman-laman web resminya. Dia dikenal sebagai fotografer yang ‘angin-anginan’ saat bekerja. Mudah bosan. Tiba-tiba menghilang saat jam kerja atau kebiasannya yang merepotkan adalah mengganti model ketika pemotretan berlangsung. Kau tahu kan… itu bukan wewenangnya.

Namun, dia tetap memaksakan kehendaknya pada kliennya. Dia merasa bahwa dia berhak berpendapat karena nantinya, namanya akan dicantumkan jelas. Dan jika hasilnya buruk, dia tidak mau disangkutpautkan. Dia juga bilang bahwa dia justru membantu mereka agar dapat meningkatkan citra brand atau busana kliennya. Jadi, apa salahnya jika dia cukup vocal menyangkut credibility-nya. Oh… ya, kau tahu… seseorang yang menginginkan jasanya layaknya seorang promotor. Ibaratnya, harus mengikuti semua pemintaan penyanyi yang diharapkan akan mampir untuk menggelar konser.

Dia berbisik padaku bahwa semua pemintaannya itu adalah harga dirinya. Dengan begitu, dia merasa diistimewakan mengingat dia senang diperlakukan begitu. Katanya, semua orang pasti senang jika kepentingannya selalu didahulukan. Dia juga bilang bahwa merasa diistimewakan adalah hal baik. Ya… begitulah anak orang kaya yang dipanggil Tuan muda sedari kecil. Dan hasilnya, mereka akan menghargainya. Bukan hanya dirinya saja, pada hasil jepretannya juga.

Satu hal lagi, dia memasang tarif untuk setiap pemotretannya. Meski bukan itu yang dia cari, tapi dibayar dengan harga yang pantas atau memasang harga itu sangat penting agar tidak dipandang sebelah mata oleh kliennya. Ujung-ujungnya, ini adalah bisnis. Lagipula, ada para staf yang harus digaji. Aduh… gawat. Kenapa aku membaginya pada kalian, ya? Aku seharusnya tutup mulut mengenai ini. Sstt… jangan bilang-bilang aku mengatakannya. Ingat, ini adalah rahasia di antara kita, ok.

Meski begitu, aku mengenalnya sebagai orang yang sangat mencintai profesinya. ‘Menggilai’ kamera. Ups… apa kata menggilai itu berlebihan? Entah itu kamera untuk memotret atau video camera yang digunakan untuk membuat film pendek atau dokumentasi lainnya. Dia bukan hanya sebagai camera operator atau istilah kerennya cinematographer, posisi sutradara juga dipegangnya. Menjadi orang di balik kamera, maka think out of the box. Begitu yang dia katakan padaku sambil menjelaskan pengoperasian kamera barunya itu.

Mengenai angin-anginan, maksudku adalah dia hanya akan bekerja atau menerima tawaran jika konsepnya ditanggapi serius bukan sekedar pendapat, melainkan dipertimbangkan juga. Tidak mau diatur. Dikenal sebagai ‘penggila kamera’ yang mudah naik pitam. Sulit mengendalikan amarahnya. Banyak yang bilang dia adalah hotheaded person. Meski begitu, selama ini klien-kliennya setuju mengikuti caranya bekerja, bukan sebaliknya. Bekerjasama bersama seseorang atau sebuah tim yang memiliki visi yang sama dengannya merupakan hal yang disukainya.

Berteriak kesal sembari membidikku menggunakan kamera holga multicolor yang asal diambilnya. Dia pasti cukup kerepotan menelepon, menaruh, dan mengambil barang-barangnya dalam waktu yang bersamaan tanpa melihat sambil berteriak pula. Poni sampingku yang terterpa angin sedikit mengahalangi pandanganku. Rambutku menerpa wajah yang dipulas make up tipis. Bersamaan dengan itu, Koichi mengejarku atas arahan Fred tentu saja. Belum sempat dia bicara, aku menaikkan lenganku. Kupegang tali tas yang tipis ini seraya memotret keadaan sekitar dengan pemandangan yang didominasi oleh air. Mataku jauh memandang di luar pembatas beton jembatan yang kokoh. Beberapa jepretan foto kudapatkan tanpa begitu memikirkan aspek fotografi. Kulepaskan jemariku dari kamera mengingat bisnya sudah sangat dekat. Jari-jemariku berhasil menggenggam erat sisi tangga yang terdapat di belakang bis tersebut.    

Dengan wajah sumringah aku melambaikan tangan kiriku. Tanpa memedulikan banyak mata yang melihatku di balik kaca jendela mobil mereka, aku berdiri di atas anak tangga bis tersebut. Sebaliknya, aku justru tertawa geli melihat Fred yang kesal. Menaruh kedua tangan di pinggangnya. Koichi berlari semakin kencang. Rambutnya yang selalu disisir rapi pun sedikit acak-acakan. Setelan jas hitam dengan kemeja putih dan earphone yang masih terpasang di telinganya mengingatkanku pada beberapa pengawal yang berhasil ‘kusingkirkan.’ Dia sedang berusaha menghentikan bisnya dengan membiarkan tubuhnya terlihat di spion supir. Dengan begitu, supirnya menginjak rem. Bagiku, tidaklah sulit untuk membuatnya berhenti melakukan itu.

Dengan tenangnya dan datarnya aku berkata, “Apa kau ingin aku melompat dari mobil yang sedang melaju? Baiklah…” Tubuhku condong ke depan.

Panik dia berujar cepat, “Jangan!” Dia melambatkan langkahnya.“Kalau begitu, berhentilah mengejarku.” Kembali pada posisi semula. Ucapanku mampu membuatnya sedikit menjauh dari bis yang kutumpangi gratis ini. Terlihat senyumku yang mengembang.

“Sudahlah… berhenti mengejarku. Aku janji tidak akan lama. Sudah… sana pergi. See you at the meeting.”

Kudengar suara Fred yang berteriak. “Lihat saja seberapa jauh kau bisa pergi.” Aku hanya membalasnya dengan lambaian tinggi tanganku.

Melihatku yang sudah cukup jauh dia berkata, “Ya, baiklah… Bersenang-senanglah selama beberapa jam.” 

Bergumam di tengah ramainya lalu lintas. “Kenapa akhir-akhir ini dia sering kabur, ya? Apa dia sedang perlahan-lahan menjauh dariku agar leluasa solo tour begitu? Tapi, kita kan sudah membicarakannya. Ck… ini tidak bisa dibiarkan.”

Koichi yang baru saja kembali meresponnya sembari merapikan rambut dan jasnya. “Tuan, apa yang kau katakan? Bukankah Nyonya memang senang berjalan-jalan sendirian? Mencari tempat sepi dan tenang untuk … … …”

“Ya, aku tahu itu. Kau benar. Dia pasti bisa menjaga dirinya. Dia akan baik-baik saja seperti biasanya.” Berjalan kembali menuju mobil. Menatap bis yang terhalangi oleh mobil-mobil di belakangnya.

“Mungkin, ini hanya kekhawatiranku saja.” Duduk di kursi yang berantakan oleh barang-barangnya termasuk kertas yang terlepas dari map file miliknya.

Sementara Koichi merapikannya, Fred menoleh pada sepatu berhak datar dengan aksen kain yang dibentuk bunga berwarna warni di sepanjang tali depannya. Mengambilnya lantas tersenyum tipis selagi memerhatikannya. Lalu, melihat ke luar jendela. Matahari menunjukkan sinarnya yang menyilaukan.

Berkata pada supir, “Ayo jalan.”
“Nyonya pergi begitu saja sampai sepatunya pun tertinggal. Jalan-jalan di cuaca panas begini tanpa alas kaki.” Mengeluarkan nafas panjang. “Aduh… Nyonya membuatku khawatir saja.”

“Dia pasti belum jauh,” imbuhnya.
Dia mencari dompet di tas laptopku. Di seleting dalamnya, dia menemukan my orange Hermes wallet yang berukuran 8 x 5 inches. Dia membukanya. Tersenyum tipis ketika melihat dompet yang ukurannya lebih kecil tidak ada. Dia tahu karena tasku kecil, maka aku pasti membawa dompet yang ukurannya kecil pula.

Dalam hati dia berkata, ‘Dengan uang yang tidak banyak itu, ke mana dia akan pergi?’ Lembaran mata uang Jepang lebih mendominasi dibanding mata uang lainnya.

“I’ve got an idea” seraya menatap Koichi. Mencari-cari telepon genggamnya yang tidak sengaja didudukinya. Tanpa ragu menekan tombol telepon genggamnya.  

Kira-kira 20 menit kemudian, bisnya berhenti di halte 5. Plang yang terpasang tinggi sesaat setelah aku menginjakkan kaki di halte ini yang menunjukannya. Aku merasa tidak ada yang salah dengan penampilanku. Rambutku memang sedikit berantakan, tapi selain itu semuanya baik. Tas berukuran kecil sesuai dengan dress yang kukenakan. Aksesoris berupa gelang-gelang etnik buatan tangan dan cincin yang kupakai di beberapa jemariku serta jam tangan berwarna senada dengan anting beraksen pita; semuanya ok.

Lalu… kenapa orang-orang menatapku aneh, ya? Aku membalikkan tubuhku dan menyadari diriku yang tercermin di etalase sebuah toko pakaian. Ya ampun… aku tidak beralas kaki! Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa aku terlalu bersemangat, sehingga rasa panas di telepak kakiku saja tidak terasa? Pantas… mereka menatapku begitu. Rupanya memang ada yang tidak beres dengan penampilanku. Bagaimana mungkin penampilan seseorang bisa dikatakan sempurna jika tidak mengenakan sepasang sepatu yang sesuai dengan busananya. Menurutku, sepasang sepatu itu merupakan kunci dari keseluruhan penampilan seseorang.

Ketika aku melihat ada seorang wanita yang berpakaian modis, apalagi dengan tatanan rambutnya yang sesuai; sementara mataku ‘mengidentifikasi’ sepatunya tidak cocok dengan keseluruhan busananya. Kurasa itu nilai minus mengingat dia bisa saja tampil sempurna, tapi sepatunya saja yang ‘kurang.’ Asumsikan seperti dressing di salad buah yang terlalu banyak cream, sehingga menutupi kesegaran buah-buahannya atau Mexican chili meatballs yang rasa pedasnya kurang menggigit di lidah. Ayolah… namanya saja chili, tentu rasanya harus pedas.

Sama halnya dengan penampilan dari atas sampai bawah yang seharusnya sesuai. Bukan berarti atasan berwarna merah, lalu sisanya serba merah. Tidak. Itu salah pengertian namanya. Harus ada yang ditonjolkan dari penampilannya. Entah itu sepatu, aksesoris, tas atau busananya sendiri. Aku sangat menyayangkan melihat sepatu yang terlalu sederhana dipadankan dengan gaun malam bermotif polos begitu. Tampaknya itu sepatu yang digunakan sehari-hari. Bagian belakangnya sedikit kotor dan bernoda coklat. Tidak cocok, kan? Apa kau sependapat denganku?   

Fred bilang barang-barang wanita memang merepotkan. “Kami pria bisa bepergian selama seminggu hanya dengan membawa satu koper ukuran standar saja. Berbeda dengan wanita yang perlu 2-3 koper besar. Belum lagi, koper make up yang terpisah. Apa saja yang kalian bawa? Aku bertaruh pasti banyak barang yang kalian masukkan ke dalam sana, termasuk beberapa pasang sepatu dan tas.”

“Memangnya aku seperti itu?” Mengerenyitkan dahiku. Mengingat berapa koper yang kubawa setiap kali ke airport.

“Kau memang hanya membawa satu koper berukuran kecil setiap kita bepergian, tapi pada waktunya pulang kopermu bertambah.”

“Itu kan agar praktis. Jadi, aku membeli pakaian di sana saja. Sedikit diluar perkiraan memang” seraya tersenyum bersalah. “Tapi… di koperku juga terdapat oleh-oleh untuk banyak orang.” Memelankan suaraku. “Isinya tidak semua barang-barangku.”

Kau tahu… tidak aneh acara yang hanya dihadiri selama 1-2 jam, tapi dandannya lebih lama dari itu. Belum lagi lemari dan meja rias yang berantakan serta ranjang yang dipenuhi berbagai macam pakaian yang sudah dicobanya sembari berdiri di depan cermin. Bukankah begitu, girls? Ayolah… kami, wanita diakui atau tidak, disadari atau tidak memang seperti itu. Senang tampil cantik dan berusaha tampil cantik di hadapan orang yang akan ditemuinya. Ya, setidaknya tampil pantas.

Mencari sepatu yang cocok dengan dress pendek musim panasku memang tidak sulit di sini. Di sepanjang jalan ini berjajar toko dan butik busana wanita. Setelah window-shopping di tiga butik di belakangku sana, aku mendapat sepasang sepatu wedges bertali lebar yang dari kejauhan tampak berwarna kuning tua. Sepatu berhak 10 cm berbahan kulit yang memiliki design sederhana ini nyaman digunakan berjalan. Tali sepatunya menyilang dan melingkar di pergelangan kakiku, sedangkan potongan yang lebih lebar menutupi jari jemari kakiku. Yang terlihat dari depan hanya keempat jemari kakiku. Mengingat keterbatasan bahasa, membeli satu barang yang seharusnya dan biasanya tidak memakan banyak waktu menjadi lebih dari 30 menit.

Sebenarnya, ada beberapa barang yang ingin kubeli di butik bernama Angel’s Wings ini, tapi kau tahu kan tidak banyak mata uang Korea di dompet kecil berseletingku ini. Berbeda dengan jumlah mata uang Yen yang ternyata ada tujuh lembar dengan nilai yang cukup besar. Menyadari kartu kreditku tidak bisa dipakai ketika tidak melihat logo Visa ataupun MasterCard di pintu masuk, aku harus membatasi pengeluaranku. Ya, saat ini aku berada di Korea. Apa kau bisa menduganya? Aaa… seperti dugaanku. Terdapat beberapa orang yang sedikit terkejut ketika membaca Korea. Got you! Hei… apa kau baru saja tersenyum ketahuan?

  Kubersihkan telapak kakiku menggunakan tisu basah yang kuminta dari salah satu pegawai di sana. Tapi, karena aku menggunakan lebih dari dua helai tisu, sekalian kubeli saja semuanya. Perempuan berusia sekitar 20 tahunan ini bukan memandangiku, melainkan dua tatoku yang berada di kedua lenganku. Dari tulang selangka melingkar melewati lengan sampai punggungku yang terdapat tato bergambar dedaunan dipermanis dengan bunga-bunga kecil berwarna merah. Bentuknya bisa dibilang feminine; menjuntai indahnya. Satunya lagi adalah tato yang berjalan di bawah lenganku bertuliskan; love, ice cream and ring berukuran sedang. Bagian bawah huruf G-nya adalah cincin merah jambu yang termasuk ke dalam kategori berlian paling langka di dunia. Tebak berapa harganya. Siapkan belasan juta dolar harus jika ingin membelinya di pelelangan.

Hurufnya memang sengaja dibuat seperti tulisan tangan atau lebih mirip coretan-coretan dinding yang sering kita jumpai di setiap sudut kota. Cukup untuk membuat orang-orang di sekelilingku bukan hanya menoleh, melainkan menatap kagum, tidak suka, bahkan menggelengkan kepalanya. Terlebih, Fred juga tidak suka tatoku yang satu ini. Katanya, tatonya terlalu besar dan terlalu bold untuk seorang wanita sepertiku. Komentarnya pedas sekali jika mengenai hal ini.

“Dengan tato itu, kau terlihat seperti bartender atau DJ di sebuah nightclub murahan yang terdapat di gang-gang kecil. And what is that? I get it about the love. Humph…. but I have no idea with the rest. Ice cream and ring?”

Aku hanya cemberut mendengarnya berkata seperti itu. Musim panas mengingatkanku pada ice cream, sedangkan ring; aku sedang memutar-mutarnya sewaktu T bertanya apa kata selanjutnya. Aku selalu teringat padanya setiap kali melihatnya. Ini adalah pemberian terakhir dari seorang pria bernama Hans Joseph Eshkert. Siapa dia? Akan aku ceritakan nanti.

“Untung saja tidak permanen.” Hah… tidak permanen? Bagaimana mungkin tato tidak permanen? Aku jamin pasti banyak yang menanyakannya.

Jadi begini, aku mengenal seorang teman yang ahli dalam bidang body painting dan teknik pewarnaan. Kemampuannya sampai terdengar ke studio Universal yang luas bak komplek perumahan itu. Tidak berapa lama kemudian, Tony atau yang akrab kupanggil T sudah berada di dalam ruang rias. Dia adalah salah satu staf special effect dalam produksi film tersebut.

Tangannya yang dilapisi sarung tangan ketat sedang membuat tato untuk melengkapi karakter yang diinginkan sutradara. Aktor tersebut berperan sebagai prajurit khusus sewaktu masa perang dunia kedua yang biasanya ditandai dengan nomor seri rahasia yang ditato di salah satu bagian tubuhnya. Aku tidak akan menyebutkan nama aktor itu mengingat filmnya belum tayang di bioskop. Bahkan syutingnya saja belum selesai. Dituduh sebagai penyebar berita yang membocorkan informasi yang seharusnya dirahasiakan kan tidak menyenangkan.

Apa kau pikir tato yang sedang dikerjakannya itu tato asli yang permanen begitu? Tentu saja tidak. Tato yang selamanya berada di tubuhmu tidak akan sembarangan dibuat begitu saja. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang menginginkan kehadiran seorang bayi mungil nan lucu di tengah-tengah kehidupannya. Untuk itulah, keahlian T dibutuhkan karena pewarnaan merupakan kunci utama agar tato tersebut kelihatan begitu nyata. Maksudku, membuat tatonya semirip aslinya.

Menurutnya, akan lebih baik lagi jika para penonton berpikir dan menganggap bahwa itu adalah tato asli. Namun, sewaktu melihat foto aktor tersebut terpajang di halaman majalah-majalah atau artikel di internet, mereka menyadari bahwa tatonya sudah tidak ada.

‘Oh… ternyata itu bukan asli.’ Lalu, dia mendengar. ‘Tatonya tampak begitu nyata.’
Nah… itu adalah sebuah kepercayaan diri baginya. Tanda bahwa hasil kerja kerasnya selama berjam-jam di ruang rias diakui. Produsernya bilang bahwa pengerjaan tato palsunya itu sangat detil. Sempurna. Dia bahkan sampai meminta untuk dibuatkan satu tato berukuran kecil yang bergambar wajah anak lelakinya yang berusia empat tahun di tengkuknya. Melihat hasilnya, dia bilang bahwa tato goresan tangannya lebih dari memuaskan. Ekpresi wajah dan garis senyumnya lebih baik dari foto yang dia tunjukkan.