Chapter 1
Kukalungkan kamera
barbie star-ku, kemudian mengeluarkan
my summer Burberry bag dari jendela
mobil sedan semi-limo hitam yang
kutumpangi bersama kakak lelakiku. Mengeluarkan tubuhku dari kaca jendela yang
kubuka lebar. Tanpa sepengetahuannya, aku memberi aba-aba pada supir agar
menurunkan kecepatan mobil. Perlahan berhenti di bahu jalan. Demi keselamatan
kami semua, aku tidak bisa lompat begitu saja dari mobil yang berada di jalur
cepat. Apalagi, situasi jalan raya cukup ramai. Siang ini kami sedang berkendara
di atas jembatan yang rata-rata dilewati oleh banyak kendaraan yang melaju kencang.
“Bruk…” Tasku
jatuh di jalanan. Tidak lama, kaki kananku menapak di aspal yang panas ini tanpa
alas kaki. Kuku kakiku yang berhias nail
polish berwarna biru metalik tampak berkilau.
Aku bergumam.
“Oh… untung saja… dia sedang sibuk.” Satu tangannya memegang telepon genggam
edisi terbatasnya dan tangan lainnya menyentuh layar tablet PC-nya. Segera kukeluarkan kakiku seraya meraih tasku, tapi
kakakku, Fred rupanya menyadari angin yang masuk dari jendela yang barusan
kubuka.
Dia menarik lenganku.
Sontak aku terkejut. “Mau pergi ke mana kau?” Berusaha melepaskan tangannya.
Lantang dia
menyebut namaku. Dia kerepotan menaruh dua gadget-nya
itu. Dress yang kira-kira 5 cm dari
lututku dengan design one shoulder berlengan
panjang yang lebar dan berwarna cerah khas musim panas yang kukenakan tidak
bisa digapainya.
Bersamaan dengan
itu, Koichi, asisten pribadiku yang sudah berada di luar mobil memanggilku.
“Nyonya… jangan lakukan ini lagi. Jujur, apa kau tidak pernah merasa lelah,
Nyonya?”
“Tap… tap…” Aku
berjalan cepat menuju trotoar. Di sampingku terhampar entah sungai atau laut
yang membatasi satu kota dengan kota terdekat. Memancarkan sinar matahari yang
terpantul di aliran air yang tenang. Mobil-mobil melambatkan lajunya seakan
melihat kecelakaan di jalan raya.
“Berapa kali
kubilang jangan memanggilku seperti itu. Bukankah usiaku terlalu muda untuk dipanggil
Madam?”
Kulihat bis
berwarna hijau pudar baru saja lewat. Baiklah… aku ada ide. Aku melompati
pembatas jalan. Berlari menuju bis. Seolah mengerti akan pandangan mataku pada
bis itu, Fred dengan cepat mengeluarkan kepalanya dari jendela bak turis yang
sedang melihat betapa tingginya gedung-gedung pencakar langit di pusat kota.
Melepas kacamata
hitamnya. “I told you, get back here! Moira
Sakura April Rosanna Eshkert, if you not get
inside right now, I’ll… …”
Mendengarnya
tidak membuatku melambatkan langkahku. Aku justru menghiraukan ucapannya.
Bergegas mengejar bis yang jaraknya tidak jauh itu. Rambut panjang
bergelombangku melayang-layang di udara. Sesekali aku menengoknya yang kesal
seraya tetap memotretku. Bagaimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun juga
dia selalu mendapat objek untuk kesenangan dan gairahnya dalam hidup. Ya, fotografi.
Terkejut? Apa kau pernah menduga seseorang berdarah biru seperti dia memiliki
ketertarikan dalam semua hal yang berhubungan dengan lensa? Para pria di
dunianya berkecimpung dalam berbagai bisnis termasuk hotel dan restoran, saham
atau dunia politik yang sama sekali tidak disukainya.
Dia yang banyak orang
sebut sebagai fotografer yang hasil karyanya selalu mengagetkan dengan model
dan pose yang tidak terpikirkan which turns out unbelievably spectacular. Tidak
terduga dan terkadang menggelikan. Dia bak memiliki 100 cara untuk mendapat foto
yang dia inginkan. Justru itulah yang membuat foto-fotonya dinanti dan
dirindukan untuk di-post di
laman-laman web resminya. Dia dikenal
sebagai fotografer yang ‘angin-anginan’ saat bekerja. Mudah bosan. Tiba-tiba
menghilang saat jam kerja atau kebiasannya yang merepotkan adalah mengganti
model ketika pemotretan berlangsung. Kau tahu kan… itu bukan wewenangnya.
Namun, dia tetap
memaksakan kehendaknya pada kliennya. Dia merasa bahwa dia berhak berpendapat
karena nantinya, namanya akan dicantumkan jelas. Dan jika hasilnya buruk, dia
tidak mau disangkutpautkan. Dia juga bilang bahwa dia justru membantu mereka
agar dapat meningkatkan citra brand atau
busana kliennya. Jadi, apa salahnya jika dia cukup vocal menyangkut credibility-nya.
Oh… ya, kau tahu… seseorang yang menginginkan jasanya layaknya seorang
promotor. Ibaratnya, harus mengikuti semua pemintaan penyanyi yang diharapkan
akan mampir untuk menggelar konser.
Dia berbisik
padaku bahwa semua pemintaannya itu adalah harga dirinya. Dengan begitu, dia
merasa diistimewakan mengingat dia senang diperlakukan begitu. Katanya, semua
orang pasti senang jika kepentingannya selalu didahulukan. Dia juga bilang
bahwa merasa diistimewakan adalah hal baik. Ya… begitulah anak orang kaya yang
dipanggil Tuan muda sedari kecil. Dan hasilnya, mereka akan menghargainya.
Bukan hanya dirinya saja, pada hasil jepretannya juga.
Satu hal lagi,
dia memasang tarif untuk setiap pemotretannya. Meski bukan itu yang dia cari,
tapi dibayar dengan harga yang pantas atau memasang harga itu sangat penting
agar tidak dipandang sebelah mata oleh kliennya. Ujung-ujungnya, ini adalah bisnis.
Lagipula, ada para staf yang harus digaji. Aduh… gawat. Kenapa aku membaginya
pada kalian, ya? Aku seharusnya tutup mulut mengenai ini. Sstt… jangan
bilang-bilang aku mengatakannya. Ingat, ini adalah rahasia di antara kita, ok.
Meski begitu,
aku mengenalnya sebagai orang yang sangat mencintai profesinya. ‘Menggilai’
kamera. Ups… apa kata menggilai itu berlebihan? Entah itu kamera untuk memotret
atau video camera yang digunakan
untuk membuat film pendek atau dokumentasi lainnya. Dia bukan hanya sebagai camera operator atau istilah kerennya cinematographer, posisi sutradara juga
dipegangnya. Menjadi orang di balik kamera, maka think out of the box. Begitu yang dia katakan padaku sambil
menjelaskan pengoperasian kamera barunya itu.
Mengenai
angin-anginan, maksudku adalah dia hanya akan bekerja atau menerima tawaran
jika konsepnya ditanggapi serius bukan sekedar pendapat, melainkan
dipertimbangkan juga. Tidak mau diatur. Dikenal sebagai ‘penggila kamera’ yang
mudah naik pitam. Sulit mengendalikan amarahnya. Banyak yang bilang dia adalah hotheaded person. Meski begitu, selama
ini klien-kliennya setuju mengikuti caranya bekerja, bukan sebaliknya. Bekerjasama
bersama seseorang atau sebuah tim yang memiliki visi yang sama dengannya
merupakan hal yang disukainya.
Berteriak kesal
sembari membidikku menggunakan kamera holga
multicolor yang asal diambilnya. Dia
pasti cukup kerepotan menelepon, menaruh, dan mengambil barang-barangnya dalam
waktu yang bersamaan tanpa melihat sambil berteriak pula. Poni sampingku yang
terterpa angin sedikit mengahalangi pandanganku. Rambutku menerpa wajah yang
dipulas make up tipis. Bersamaan
dengan itu, Koichi mengejarku atas arahan Fred tentu saja. Belum sempat dia bicara,
aku menaikkan lenganku. Kupegang tali tas yang tipis ini seraya memotret
keadaan sekitar dengan pemandangan yang didominasi oleh air. Mataku jauh
memandang di luar pembatas beton jembatan yang kokoh. Beberapa jepretan foto
kudapatkan tanpa begitu memikirkan aspek fotografi. Kulepaskan jemariku dari
kamera mengingat bisnya sudah sangat dekat. Jari-jemariku berhasil menggenggam
erat sisi tangga yang terdapat di belakang bis tersebut.
Dengan wajah sumringah
aku melambaikan tangan kiriku. Tanpa memedulikan banyak mata yang melihatku di balik
kaca jendela mobil mereka, aku berdiri di atas anak tangga bis tersebut.
Sebaliknya, aku justru tertawa geli melihat Fred yang kesal. Menaruh kedua
tangan di pinggangnya. Koichi berlari semakin kencang. Rambutnya yang selalu
disisir rapi pun sedikit acak-acakan. Setelan jas hitam dengan kemeja putih dan
earphone yang masih terpasang di
telinganya mengingatkanku pada beberapa pengawal yang berhasil ‘kusingkirkan.’ Dia sedang berusaha menghentikan
bisnya dengan membiarkan tubuhnya terlihat di spion supir. Dengan begitu,
supirnya menginjak rem. Bagiku, tidaklah sulit untuk membuatnya berhenti
melakukan itu.
Dengan tenangnya
dan datarnya aku berkata, “Apa kau ingin aku melompat dari mobil yang sedang melaju?
Baiklah…” Tubuhku condong ke depan.
Panik dia
berujar cepat, “Jangan!” Dia melambatkan langkahnya.“Kalau begitu, berhentilah
mengejarku.” Kembali pada posisi semula. Ucapanku mampu membuatnya sedikit
menjauh dari bis yang kutumpangi gratis ini. Terlihat senyumku yang mengembang.
“Sudahlah…
berhenti mengejarku. Aku janji tidak akan lama. Sudah… sana pergi. See you at the meeting.”
Kudengar suara
Fred yang berteriak. “Lihat saja seberapa jauh kau bisa pergi.” Aku hanya membalasnya
dengan lambaian tinggi tanganku.
Melihatku yang
sudah cukup jauh dia berkata, “Ya, baiklah… Bersenang-senanglah selama beberapa
jam.”
Bergumam di
tengah ramainya lalu lintas. “Kenapa akhir-akhir ini dia sering kabur, ya? Apa
dia sedang perlahan-lahan menjauh dariku agar leluasa solo tour begitu? Tapi, kita kan sudah membicarakannya. Ck… ini
tidak bisa dibiarkan.”
Koichi yang baru saja kembali
meresponnya sembari merapikan rambut dan jasnya. “Tuan, apa yang kau katakan?
Bukankah Nyonya memang senang berjalan-jalan sendirian? Mencari tempat sepi dan
tenang untuk … … …”
“Ya, aku tahu
itu. Kau benar. Dia pasti bisa menjaga dirinya. Dia akan baik-baik saja seperti
biasanya.” Berjalan kembali menuju mobil. Menatap bis yang terhalangi oleh
mobil-mobil di belakangnya.
“Mungkin, ini
hanya kekhawatiranku saja.” Duduk di kursi yang berantakan oleh
barang-barangnya termasuk kertas yang terlepas dari map file miliknya.
Sementara Koichi
merapikannya, Fred menoleh pada sepatu berhak datar dengan aksen kain yang
dibentuk bunga berwarna warni di sepanjang tali depannya. Mengambilnya lantas
tersenyum tipis selagi memerhatikannya. Lalu, melihat ke luar jendela. Matahari
menunjukkan sinarnya yang menyilaukan.
Berkata pada
supir, “Ayo jalan.”
“Nyonya pergi
begitu saja sampai sepatunya pun tertinggal. Jalan-jalan di cuaca panas begini
tanpa alas kaki.” Mengeluarkan nafas panjang. “Aduh… Nyonya membuatku khawatir
saja.”
“Dia pasti belum
jauh,” imbuhnya.
Dia mencari
dompet di tas laptopku. Di seleting dalamnya, dia menemukan my orange Hermes wallet yang berukuran 8 x 5 inches.
Dia membukanya. Tersenyum tipis ketika melihat dompet yang ukurannya lebih
kecil tidak ada. Dia tahu karena tasku kecil, maka aku pasti membawa dompet
yang ukurannya kecil pula.
Dalam hati dia
berkata, ‘Dengan uang yang tidak banyak itu, ke mana dia akan pergi?’ Lembaran
mata uang Jepang lebih mendominasi dibanding mata uang lainnya.
“I’ve got an idea” seraya menatap
Koichi. Mencari-cari telepon genggamnya yang tidak sengaja didudukinya. Tanpa
ragu menekan tombol telepon genggamnya.
Kira-kira 20
menit kemudian, bisnya berhenti di halte 5. Plang yang terpasang tinggi sesaat
setelah aku menginjakkan kaki di halte ini yang menunjukannya. Aku merasa tidak
ada yang salah dengan penampilanku. Rambutku memang sedikit berantakan, tapi
selain itu semuanya baik. Tas berukuran kecil sesuai dengan dress yang kukenakan. Aksesoris berupa
gelang-gelang etnik buatan tangan dan cincin yang kupakai di beberapa jemariku
serta jam tangan berwarna senada dengan anting beraksen pita; semuanya ok.
Lalu… kenapa
orang-orang menatapku aneh, ya? Aku membalikkan tubuhku dan menyadari diriku
yang tercermin di etalase sebuah toko pakaian. Ya ampun… aku tidak beralas
kaki! Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa aku terlalu bersemangat, sehingga rasa
panas di telepak kakiku saja tidak terasa? Pantas… mereka menatapku begitu. Rupanya
memang ada yang tidak beres dengan penampilanku. Bagaimana mungkin penampilan
seseorang bisa dikatakan sempurna jika tidak mengenakan sepasang sepatu yang
sesuai dengan busananya. Menurutku, sepasang sepatu itu merupakan kunci dari
keseluruhan penampilan seseorang.
Ketika aku
melihat ada seorang wanita yang berpakaian modis, apalagi dengan tatanan
rambutnya yang sesuai; sementara mataku ‘mengidentifikasi’ sepatunya tidak
cocok dengan keseluruhan busananya. Kurasa itu nilai minus mengingat dia bisa
saja tampil sempurna, tapi sepatunya saja yang ‘kurang.’ Asumsikan seperti dressing di salad buah yang terlalu
banyak cream, sehingga menutupi kesegaran
buah-buahannya atau Mexican chili
meatballs yang rasa pedasnya kurang menggigit di lidah. Ayolah… namanya
saja chili, tentu rasanya harus
pedas.
Sama halnya
dengan penampilan dari atas sampai bawah yang seharusnya sesuai. Bukan berarti
atasan berwarna merah, lalu sisanya serba merah. Tidak. Itu salah pengertian
namanya. Harus ada yang ditonjolkan dari penampilannya. Entah itu sepatu,
aksesoris, tas atau busananya sendiri. Aku sangat menyayangkan melihat sepatu
yang terlalu sederhana dipadankan dengan gaun malam bermotif polos begitu.
Tampaknya itu sepatu yang digunakan sehari-hari. Bagian belakangnya sedikit
kotor dan bernoda coklat. Tidak cocok, kan? Apa kau sependapat denganku?
Fred bilang
barang-barang wanita memang merepotkan. “Kami pria bisa bepergian selama
seminggu hanya dengan membawa satu koper ukuran standar saja. Berbeda dengan
wanita yang perlu 2-3 koper besar. Belum lagi, koper make up yang terpisah. Apa saja yang kalian bawa? Aku bertaruh
pasti banyak barang yang kalian masukkan ke dalam sana, termasuk beberapa
pasang sepatu dan tas.”
“Memangnya aku
seperti itu?” Mengerenyitkan dahiku. Mengingat berapa koper yang kubawa setiap
kali ke airport.
“Kau memang
hanya membawa satu koper berukuran kecil setiap kita bepergian, tapi pada
waktunya pulang kopermu bertambah.”
“Itu kan agar
praktis. Jadi, aku membeli pakaian di sana saja. Sedikit diluar perkiraan
memang” seraya tersenyum bersalah. “Tapi… di koperku juga terdapat oleh-oleh
untuk banyak orang.” Memelankan suaraku. “Isinya tidak semua barang-barangku.”
Kau tahu… tidak
aneh acara yang hanya dihadiri selama 1-2 jam, tapi dandannya lebih lama dari
itu. Belum lagi lemari dan meja rias yang berantakan serta ranjang yang
dipenuhi berbagai macam pakaian yang sudah dicobanya sembari berdiri di depan
cermin. Bukankah begitu, girls? Ayolah…
kami, wanita diakui atau tidak, disadari atau tidak memang seperti itu. Senang
tampil cantik dan berusaha tampil cantik di hadapan orang yang akan ditemuinya.
Ya, setidaknya tampil pantas.
Mencari sepatu
yang cocok dengan dress pendek musim
panasku memang tidak sulit di sini. Di sepanjang jalan ini berjajar toko dan butik
busana wanita. Setelah window-shopping di
tiga butik di belakangku sana, aku mendapat sepasang sepatu wedges bertali lebar yang dari kejauhan
tampak berwarna kuning tua. Sepatu berhak 10 cm berbahan kulit yang memiliki design sederhana ini nyaman digunakan
berjalan. Tali sepatunya menyilang dan melingkar di pergelangan kakiku,
sedangkan potongan yang lebih lebar menutupi jari jemari kakiku. Yang terlihat
dari depan hanya keempat jemari kakiku. Mengingat keterbatasan bahasa, membeli
satu barang yang seharusnya dan biasanya tidak memakan banyak waktu menjadi lebih
dari 30 menit.
Sebenarnya, ada
beberapa barang yang ingin kubeli di butik bernama Angel’s Wings ini, tapi kau tahu kan tidak banyak mata uang Korea
di dompet kecil berseletingku ini. Berbeda dengan jumlah mata uang Yen yang ternyata
ada tujuh lembar dengan nilai yang cukup besar. Menyadari kartu kreditku tidak
bisa dipakai ketika tidak melihat logo Visa ataupun MasterCard di pintu masuk,
aku harus membatasi pengeluaranku. Ya, saat ini aku berada di Korea. Apa kau
bisa menduganya? Aaa… seperti dugaanku. Terdapat beberapa orang yang sedikit
terkejut ketika membaca Korea. Got you! Hei…
apa kau baru saja tersenyum ketahuan?
Kubersihkan telapak kakiku menggunakan tisu
basah yang kuminta dari salah satu pegawai di sana. Tapi, karena aku
menggunakan lebih dari dua helai tisu, sekalian kubeli saja semuanya. Perempuan
berusia sekitar 20 tahunan ini bukan memandangiku, melainkan dua tatoku yang
berada di kedua lenganku. Dari tulang selangka melingkar melewati lengan sampai
punggungku yang terdapat tato bergambar dedaunan dipermanis dengan bunga-bunga
kecil berwarna merah. Bentuknya bisa dibilang feminine; menjuntai indahnya. Satunya lagi adalah tato yang berjalan
di bawah lenganku bertuliskan; love, ice
cream and ring berukuran sedang. Bagian bawah huruf G-nya adalah cincin
merah jambu yang termasuk ke dalam kategori berlian paling langka di dunia.
Tebak berapa harganya. Siapkan belasan juta dolar harus jika ingin membelinya
di pelelangan.
Hurufnya memang
sengaja dibuat seperti tulisan tangan atau lebih mirip coretan-coretan dinding
yang sering kita jumpai di setiap sudut kota. Cukup untuk membuat orang-orang
di sekelilingku bukan hanya menoleh, melainkan menatap kagum, tidak suka,
bahkan menggelengkan kepalanya. Terlebih, Fred juga tidak suka tatoku yang satu
ini. Katanya, tatonya terlalu besar dan terlalu bold untuk seorang wanita sepertiku. Komentarnya pedas sekali jika
mengenai hal ini.
“Dengan tato
itu, kau terlihat seperti bartender
atau DJ di sebuah nightclub murahan yang
terdapat di gang-gang kecil. And what is
that? I get it about the love. Humph…. but I have no idea with the rest. Ice
cream and ring?”
Aku hanya
cemberut mendengarnya berkata seperti itu. Musim panas mengingatkanku pada ice cream, sedangkan ring; aku sedang memutar-mutarnya
sewaktu T bertanya apa kata selanjutnya. Aku selalu teringat padanya setiap
kali melihatnya. Ini adalah pemberian terakhir dari seorang pria bernama Hans
Joseph Eshkert. Siapa dia? Akan aku ceritakan nanti.
“Untung saja
tidak permanen.” Hah… tidak permanen? Bagaimana mungkin tato tidak permanen?
Aku jamin pasti banyak yang menanyakannya.
Jadi begini, aku
mengenal seorang teman yang ahli dalam bidang body painting dan teknik pewarnaan. Kemampuannya sampai terdengar ke studio Universal yang luas bak
komplek perumahan itu. Tidak berapa lama kemudian, Tony atau yang akrab
kupanggil T sudah berada di dalam ruang rias. Dia adalah salah satu staf special effect dalam produksi film
tersebut.
Tangannya yang
dilapisi sarung tangan ketat sedang membuat tato untuk melengkapi karakter yang
diinginkan sutradara. Aktor tersebut berperan sebagai prajurit khusus sewaktu
masa perang dunia kedua yang biasanya ditandai dengan nomor seri rahasia yang
ditato di salah satu bagian tubuhnya. Aku tidak akan menyebutkan nama aktor itu
mengingat filmnya belum tayang di bioskop. Bahkan syutingnya saja belum
selesai. Dituduh sebagai penyebar berita yang membocorkan informasi yang
seharusnya dirahasiakan kan tidak menyenangkan.
Apa kau pikir
tato yang sedang dikerjakannya itu tato asli yang permanen begitu? Tentu saja
tidak. Tato yang selamanya berada di tubuhmu tidak akan sembarangan dibuat
begitu saja. Sama halnya dengan sebuah keluarga yang menginginkan kehadiran
seorang bayi mungil nan lucu di tengah-tengah kehidupannya. Untuk itulah,
keahlian T dibutuhkan karena pewarnaan merupakan kunci utama agar tato tersebut
kelihatan begitu nyata. Maksudku, membuat tatonya semirip aslinya.
Menurutnya, akan
lebih baik lagi jika para penonton berpikir dan menganggap bahwa itu adalah
tato asli. Namun, sewaktu melihat foto aktor tersebut terpajang di halaman
majalah-majalah atau artikel di internet,
mereka menyadari bahwa tatonya sudah tidak ada.
‘Oh… ternyata
itu bukan asli.’ Lalu, dia mendengar. ‘Tatonya tampak begitu nyata.’
Nah… itu adalah sebuah
kepercayaan diri baginya. Tanda bahwa hasil kerja kerasnya selama berjam-jam di
ruang rias diakui. Produsernya bilang bahwa pengerjaan tato palsunya itu sangat
detil. Sempurna. Dia bahkan sampai meminta untuk dibuatkan satu tato berukuran
kecil yang bergambar wajah anak lelakinya yang berusia empat tahun di
tengkuknya. Melihat hasilnya, dia bilang bahwa tato goresan tangannya lebih
dari memuaskan. Ekpresi wajah dan garis senyumnya lebih baik dari foto yang dia
tunjukkan.